Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:"Pertanyaan seperti ini sangat berharga dan berbobot, yang mengetahui hal itu hanyalah orang-orang yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits-hadits yang shahih, dan pengetahuan itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Maka jadilah dia memiliki kemampuan, memiliki spesialisasi yang mendalam terhadap pengetahuan hadits-hadits dan atsar (riwayat dari selain Nabi), dia juga mengetahui sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mengetahui petunjuk beliau dalam hal-hal yang beliau perintahkan dan apa yang beliau larang. Dia juga mengetahui kabar/berita dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam, apa yang beliau dakwahkan, apa yang beliau cintai, apa yang beliau benci, dan apa yang beliau syri'atkan untuk ummatnya, yang mana dia seolah-olah bergaul dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seakan-akan dia adalah salah seorang Shahabat Nabi.
Maka orang yang seperti ini keadaannya, dia mengetahui ciri-ciri atau keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, petunjuknya, ucapan-ucapannya, dan apa yang boleh disampaikan dan apa yang tidak boleh disampaikan, dari sesuatu yang tidak diketahui oleh selainnya. Dan ini adalah kondisi seorang pengikut terhadap orang yang diikutinya…..Sampai beliau rahimahullah berkata:"Dan akan Kami beritahukan beberapa perkara yang global, yang dengannya dapat diketahui bahwa hadits tersebut palsu. Di antaranya:
1. Terkandung di dalamnya perkataan-perkataan yang kacau dan tidak beraturan, yang tidak mungkin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbicara dengan perkataan-perkataan semisal itu.
2. Didustakan oleh panca indera; seperti hadits (palsu):
" الباذنجان لما أُكِل له " .
"Terong itu tergantung niat yang memakannya."
3. Buruknya makna hadits dan keadaannya yang menggelikan, seperti hadits (palsu):
" لو كان الأرز رجلاً ؛ لكان حليمًا " الحديث .
"Sekiranya beras adalah seorang laki-laki maka niscaya dia akan menjadi laki-laki yang lembut."
4. Pertentangannya yang nyata dengan hadits yang shahih dan terang, maka setiap hadits yang di dalamnya ada kerusakan, kezhaliman, kesia-siaan, pujian kepada kebathilan, celaan terhadap kebenaran dan lain-lain, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlepas diri diri hadits-hadits yang semacam itu.
Aku (Ibnul Jauzi rahimahullah) berkata:"Dan penafsiran "Pertentangannya dengan ushul (pokok) agama" yang digunankan Ibnul Qayyim lebih utama dibandingkan penafsiran orang yang menafsirkannya dengan "tidak adanya hadits itu di dalam kitab-kitab Islam."
5. Mengaku/mengklaim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan sesuatu perbuatan yang terang dan jelas di hadapan para semua Shahabat radhiyallahu 'anhum, dan para Shahabat bersepakat untuk menyembunyikan hadits tersebut dan tidak menyampaikannya. Ibnul Qayyim rahimahullah mencontohkan dengan perkataan Rafidhah tentang wasiat beliau kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu.
6. Perkataan tersebut sama sekali tidak mirip dengan ucapan para Nabi 'alaihimussalam, lebih-lebih kalau dibandingkan dengan ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
7. Disebutkan dalam hadits tersebut waktu tertentu (bulan, atau tahun tertentu) seperti ucapan:"Jika datang tahun ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti ini, Jika datang bulan ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti ini." Sebagaimana dalam hadits (palsu):
" إذا انكسف القمر في المحرم؛ كان الغلاء ، والقتال ، وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صَفَر ؛ كان كذا وكذا " .
"Jika terjadi gerhana bulan pada bulan Muharran maka akan terjadi kenaikan harga, peperangan, dan kesibukan Raja. Dan jika terjadi pada bulan Shafar maka akan terjadi ini dan itu."
8. Hadits-hadits tentang Shalat nishfu Sya'ban
9. Hadits-hadits tentang shalat-shalat tertentu pada hari-hari atau malam-malam khusus.
10. Hadits-hadits yang menceritakan tentang kisah Khidir dan tentang hidupannya beliau saat ini, tidak ada satu pun hadits yang shahih.
(Sumber: هل يمكن معرفة الحديث الموضوع بضابط من غير أن يُنْظَر في سنده ؟ dari http://salahmera.com/vb/showthread.php?t=1715 dengan ringkasan. Oleh Abu Yusuf Sujono)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:"Pertanyaan seperti ini sangat berharga dan berbobot, yang mengetahui hal itu hanyalah orang-orang yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits-hadits yang shahih, dan pengetahuan itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Maka jadilah dia memiliki kemampuan, memiliki spesialisasi yang mendalam terhadap pengetahuan hadits-hadits dan atsar (riwayat dari selain Nabi), dia juga mengetahui sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mengetahui petunjuk beliau dalam hal-hal yang beliau perintahkan dan apa yang beliau larang. Dia juga mengetahui kabar/berita dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam, apa yang beliau dakwahkan, apa yang beliau cintai, apa yang beliau benci, dan apa yang beliau syri'atkan untuk ummatnya, yang mana dia seolah-olah bergaul dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seakan-akan dia adalah salah seorang Shahabat Nabi.
Maka orang yang seperti ini keadaannya, dia mengetahui ciri-ciri atau keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, petunjuknya, ucapan-ucapannya, dan apa yang boleh disampaikan dan apa yang tidak boleh disampaikan, dari sesuatu yang tidak diketahui oleh selainnya. Dan ini adalah kondisi seorang pengikut terhadap orang yang diikutinya…..Sampai beliau rahimahullah berkata:"Dan akan Kami beritahukan beberapa perkara yang global, yang dengannya dapat diketahui bahwa hadits tersebut palsu. Di antaranya:
1. Terkandung di dalamnya perkataan-perkataan yang kacau dan tidak beraturan, yang tidak mungkin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbicara dengan perkataan-perkataan semisal itu.
2. Didustakan oleh panca indera; seperti hadits (palsu):
" الباذنجان لما أُكِل له " .
"Terong itu tergantung niat yang memakannya."
3. Buruknya makna hadits dan keadaannya yang menggelikan, seperti hadits (palsu):
" لو كان الأرز رجلاً ؛ لكان حليمًا " الحديث .
"Sekiranya beras adalah seorang laki-laki maka niscaya dia akan menjadi laki-laki yang lembut."
4. Pertentangannya yang nyata dengan hadits yang shahih dan terang, maka setiap hadits yang di dalamnya ada kerusakan, kezhaliman, kesia-siaan, pujian kepada kebathilan, celaan terhadap kebenaran dan lain-lain, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlepas diri diri hadits-hadits yang semacam itu.
Aku (Ibnul Jauzi rahimahullah) berkata:"Dan penafsiran "Pertentangannya dengan ushul (pokok) agama" yang digunankan Ibnul Qayyim lebih utama dibandingkan penafsiran orang yang menafsirkannya dengan "tidak adanya hadits itu di dalam kitab-kitab Islam."
5. Mengaku/mengklaim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan sesuatu perbuatan yang terang dan jelas di hadapan para semua Shahabat radhiyallahu 'anhum, dan para Shahabat bersepakat untuk menyembunyikan hadits tersebut dan tidak menyampaikannya. Ibnul Qayyim rahimahullah mencontohkan dengan perkataan Rafidhah tentang wasiat beliau kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu.
6. Perkataan tersebut sama sekali tidak mirip dengan ucapan para Nabi 'alaihimussalam, lebih-lebih kalau dibandingkan dengan ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
7. Disebutkan dalam hadits tersebut waktu tertentu (bulan, atau tahun tertentu) seperti ucapan:"Jika datang tahun ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti ini, Jika datang bulan ini dan itu maka akan terjadi seperti ini dan seperti ini." Sebagaimana dalam hadits (palsu):
" إذا انكسف القمر في المحرم؛ كان الغلاء ، والقتال ، وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صَفَر ؛ كان كذا وكذا " .
"Jika terjadi gerhana bulan pada bulan Muharran maka akan terjadi kenaikan harga, peperangan, dan kesibukan Raja. Dan jika terjadi pada bulan Shafar maka akan terjadi ini dan itu."
8. Hadits-hadits tentang Shalat nishfu Sya'ban
9. Hadits-hadits tentang shalat-shalat tertentu pada hari-hari atau malam-malam khusus.
10. Hadits-hadits yang menceritakan tentang kisah Khidir dan tentang hidupannya beliau saat ini, tidak ada satu pun hadits yang shahih.
(Sumber: هل يمكن معرفة الحديث الموضوع بضابط من غير أن يُنْظَر في سنده ؟ dari http://salahmera.com/vb/showthread.php?t=1715 dengan ringkasan. Oleh Abu Yusuf Sujono)
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Kekayaan itu bukan dengan banyaknya harta akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” Benar, berapa banyak orang dengan harta menggunung dan uang menumpuk, tetapi saat hatinya masih bermental miskin, maka sejatinya dia miskin, dia masih saja iri kepada orang lain, berharap apa yang ada di tangan orang lain, mengangankan diberi oleh orang lain, bahkan berusaha mendapatkan harta dengan cara-cara tidak mulia dan melanggar agama, dasar hati miskin, mental kere, sebanyak apa pun duitnya, ia akan tetap seperti orang miskin, dan sebaliknya adalah sebaliknya.
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di negerinya, sehat badannya dan dia memiliki makanan harinya maka seolah-olah seluruh dunia ada di tangannya.”
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling di antara manusia, lalu dia diberi satu dan dua suapan, satu dan dua biji kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kadar kecukupan yang mencukupinya, tidak diketahui sehingga diberi sedekah dan tidak berdiri untuk meminta-minta.”
Bakr bin Udzainah berkata,
Berapa banyak orang miskin tetapi berhati kaya yang kita kenal
Berapa banyak orang kaya namun berjiwa miskin dan dia miskin.
Aus bin Haritsah berkata, “Sebaik-baik kekayaan adalah qana’ah dan sebuhruk-buruk kemiskinan adalah kerendahan.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Kekayaan dan kemiskinan hanya telah setelah menghadap kepada Allah.”
Ada yang berkata, “Syukur adalah perhiasaan kekayaan dan menahan diri adalah perhiasan kemiskinan.” Artinya bila Anda kaya maka kekayaan Anda menjadi indah bila Anda mensyukurinya, artinya kekayaan Anda menjadi buruk bila Anda mengkufurinya. Bila Anda miskin maka kemiskinan Anda menjadi indah bila Anda menahan diri dengan memiliki hati yang kaya dan qana’ah, artinya kemiskinan Anda menjadi buruk bila Anda selalu mengulurkan tangan meminta-minta.
Mereka berkata, “Hak Allah wajib pada kekayaan dan kemiskinan. Pada kekayaan adalah kasih sayang dan syukur dan pada kemiskinan adalah menahan diri dan sabar.” Ada yang berkata, “Memikul kekayaan dengan buruk menghadirkan murka dan memikul kemiskinan dengan buruk menjatuhkan kemuliaan.” Ada yang berkata, “Kekayaan ada dalam jiwa, kedudukan ada pada tawadhu’ dan kemuliaan ada pada takwa.”
Abdullah bin al-Ahtam berkata, “Barangsiapa lahir dalam kemiskinan maka akan menjadi sombong dengan kekayaan.” Mereka berkata, “Segala sesuatu yang menjadi pujian pada kekayaan adalah celaan pada kemiskinan.”
Mahmud al-Warraq berkata,
Wahai pencela kemiskinan, berhentilah mencela
Aib kekayaan lebih banyak bila kamu merenung
Di antara keunggulan dan keutamaan kemiskinan
Atas kekayaan bila perenunganmu benar adalah
Bahwa kamu durhaka kepada Allah dan berharap kaya
Dan tidak durhaka kepada Allah agar kamu miskin.
Mengapa kita melihat para ulama yang mencari harta lebih banyak daripada orang-orang kaya yang mencari ilmu? Karena para ulama mengetahui manfaat harta sedangkan orang-orang kaya tidak tahu manfaat ilmu.
Ar-Rayasyi berkata,
Kesusahan seseorang bukan dengan kemiskinan yang menderanya
Kebahagiaannya bukan pula dengan melimpahnya harta kekayaan
Sesungguhnya orang sengsara adalah orang yang tempatnya di neraka
Sedangkan kemenangan adalah kemenangan orang yang selamat dari neraka.
Dari Bahjatul Majalis, Hafizhul Maghrib Ibnu Abdul Bar.
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Kekayaan itu bukan dengan banyaknya harta akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” Benar, berapa banyak orang dengan harta menggunung dan uang menumpuk, tetapi saat hatinya masih bermental miskin, maka sejatinya dia miskin, dia masih saja iri kepada orang lain, berharap apa yang ada di tangan orang lain, mengangankan diberi oleh orang lain, bahkan berusaha mendapatkan harta dengan cara-cara tidak mulia dan melanggar agama, dasar hati miskin, mental kere, sebanyak apa pun duitnya, ia akan tetap seperti orang miskin, dan sebaliknya adalah sebaliknya.
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian merasa aman di negerinya, sehat badannya dan dia memiliki makanan harinya maka seolah-olah seluruh dunia ada di tangannya.”
Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam bersabda, “Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling di antara manusia, lalu dia diberi satu dan dua suapan, satu dan dua biji kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kadar kecukupan yang mencukupinya, tidak diketahui sehingga diberi sedekah dan tidak berdiri untuk meminta-minta.”
Bakr bin Udzainah berkata,
Berapa banyak orang miskin tetapi berhati kaya yang kita kenal
Berapa banyak orang kaya namun berjiwa miskin dan dia miskin.
Aus bin Haritsah berkata, “Sebaik-baik kekayaan adalah qana’ah dan sebuhruk-buruk kemiskinan adalah kerendahan.” Fudhail bin Iyadh berkata, “Kekayaan dan kemiskinan hanya telah setelah menghadap kepada Allah.”
Ada yang berkata, “Syukur adalah perhiasaan kekayaan dan menahan diri adalah perhiasan kemiskinan.” Artinya bila Anda kaya maka kekayaan Anda menjadi indah bila Anda mensyukurinya, artinya kekayaan Anda menjadi buruk bila Anda mengkufurinya. Bila Anda miskin maka kemiskinan Anda menjadi indah bila Anda menahan diri dengan memiliki hati yang kaya dan qana’ah, artinya kemiskinan Anda menjadi buruk bila Anda selalu mengulurkan tangan meminta-minta.
Mereka berkata, “Hak Allah wajib pada kekayaan dan kemiskinan. Pada kekayaan adalah kasih sayang dan syukur dan pada kemiskinan adalah menahan diri dan sabar.” Ada yang berkata, “Memikul kekayaan dengan buruk menghadirkan murka dan memikul kemiskinan dengan buruk menjatuhkan kemuliaan.” Ada yang berkata, “Kekayaan ada dalam jiwa, kedudukan ada pada tawadhu’ dan kemuliaan ada pada takwa.”
Abdullah bin al-Ahtam berkata, “Barangsiapa lahir dalam kemiskinan maka akan menjadi sombong dengan kekayaan.” Mereka berkata, “Segala sesuatu yang menjadi pujian pada kekayaan adalah celaan pada kemiskinan.”
Mahmud al-Warraq berkata,
Wahai pencela kemiskinan, berhentilah mencela
Aib kekayaan lebih banyak bila kamu merenung
Di antara keunggulan dan keutamaan kemiskinan
Atas kekayaan bila perenunganmu benar adalah
Bahwa kamu durhaka kepada Allah dan berharap kaya
Dan tidak durhaka kepada Allah agar kamu miskin.
Mengapa kita melihat para ulama yang mencari harta lebih banyak daripada orang-orang kaya yang mencari ilmu? Karena para ulama mengetahui manfaat harta sedangkan orang-orang kaya tidak tahu manfaat ilmu.
Ar-Rayasyi berkata,
Kesusahan seseorang bukan dengan kemiskinan yang menderanya
Kebahagiaannya bukan pula dengan melimpahnya harta kekayaan
Sesungguhnya orang sengsara adalah orang yang tempatnya di neraka
Sedangkan kemenangan adalah kemenangan orang yang selamat dari neraka.
Dari Bahjatul Majalis, Hafizhul Maghrib Ibnu Abdul Bar.
Kubur Adalah Gerbang Akhirat
Khutbah Pertama :
Amma ba’du :
Ibadallah! Saya berwasiat kepada anda semua agar senantiasa bertakwa kepada Allah Yang Maha Mangetahui segala rahasia. Bertakwalah kepadaNya secara lahir dan batin. Karena takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala adalah bekal terbaik untuk memasuki alam kubur dan hari akhir. Hari di saat semua rahasia terbongkar dan apa yang tersembunyi menjadi terbuka. Hari ketika hati terdesak ke kerongkongan. Hari saat harta benda dan kekayaan tidak lagi berguna.
Ibadallah! Siapakah yang akan kekal dan abadi ? Siapakah yang menetapkan kematian atas seluruh makhluk ? Siapakah yang akan terus hidup dan tidak akan mati ? Siapakah satu-satunya yang akan tetap bertahan ? Siapakah yang akan tetap ada dan tidak akan hilang ? Siapakah satu-satunya yang tidak akan berubah ? Dialah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Gagah. Dialah yang menetapkan kematian atas seluruh hamba. Sedangkan Dia tidak akan pernah hilang dan musnah.
Ma’syiral muslimin rahimani warahimakumullah! Orang yang diburu oleh maut, mana mungkin bisa merasakan nikmatnya hidup ? Dan orang yang akan tinggal di dalam kubur, mana mungkin menganggap dunia sebagai tempat terbaiknya ? Kita terlalu asyik dengan harta, rumah, anak dan istana, sehingga kita lupa bahwa kita semua pasti akan masuk ke liang kubur. Kita terlena dengan hal-hal baru sehingga lupa akan masa depan kita di alam kubur. Ketika kekuatan iman menurun dan perasaan melemah, kita menjadi lupa bahwa kita akan dikubur di dalam tanah. Hanya kepada Allahlah kita mengadukan kekerasan hati kita akibat banyaknya bencana dan malapetaka yang menimpa.
Wahai umat Islam! Jiwa kita pasti sangat tersentak saat kita mengantar orang-orang tercinta ke liang lahat. Dan hati kita pasti sangat terguncang saat berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi. Tapi bagi orang-orang yang beriman kepada qadla dan qadar Allah, dan mengetahui bahwa hal itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi makhlukNya (hukum Allah pada alam), tidak ada pilihan lain selain berlapang dada dan bersikap pasrah. Tetapi anehnya, banyak sekali orang yang larut dalam kebodohannya dan terombang-ambing dalam kemabukannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS. Al-Anbiyaa’ :1)
Seolah-olah kebenaran adalah kewajiban orang lain. Seakan-akan kematian adalah ketetapan bagi orang lain. Di saat kita dikepung oleh budaya kebendaan (materialisme), disibukkan dengan permainan yang menggoda, dan ditenggelamkan dalam kubangan kenikmatan dan kesenangan, hingga merasuk ke dalam hati dan meresap ke dalam jiwa. Bahkan kita merasa seolah-olah kekal di dunia ini. Dalam keadaan semacam ini, kita benar-benar perlu berhenti sejenak untuk menghadapi masa depan yang pasti akan kita lalui. Khususnya setelah dunia nyaris membawa banyak manusia menjauh dari pantai keselamatan dan melemparkan mereka ke jurang kehancuran dan kesesatan. Mudah-mudahan Allah berkenan menghindarkan kita dari murkaNya dan siksaNya yang sangat pedih.
Wahai orang-orang yang beriman! Pernahkah kita bertanya pada diri kita, apakah hidup akan terus begini, ataukah kubur akan menjadi persinggahan kita setelah ini ? Pernahkah kita bertanya kepada diri kita tentang puluhan jenazah yang kita shalati, kemanakah mereka pergi ? Apa yang akan mereka hadapi ? Bagaimanakah keadaan mereka ? Apa yang akan mereka alami ? Dan bagaimanakah nasib mereka nanti ? Tepat sekali apa yang dikatakan penyair berikut ini :
Kematian itu bisa dihindari dan dijauhi
Bila ini turun dari ranjangnya, itu naik ke atasnya
Kita menginginkan banyak hal dan mengharapkan hasilnya
Tapi boleh jadi kematian lebih dekat dari harapan kita
Kita bangun istana-istana menjulang tinggi di angkasa
Padahal kita tahu bahwa kita pasti akan mati
Dan istana-istana itu pasti akan hancur
Kepada Allah kita mengadukan kerasnya hati kita
Setiap hati peringatan kematian selalu datang
Demi Allah, setiap pagi dan petang hari banyak sekali orang tercinta
Yang kita antar ke liang kuburnya
Dengan deraian air mata
Kita timbun tubuhnya dengan tanah bagai musuh saja
Sementara di dalam hati ada api yang membara
Liang kubur telah menampung orang-orang dulu dan orang-orang belakangan, dimasuki anak-anak kecil dan orang-orang dewasa, dipenuhi rakyat dan pejabat. Liang kubur menghimpun para Nabi, para ulama, orang-orang kaya, orang-orang miskin, rakyat jelata, pejabat tinggi, laki-laki dan wanita.
Kubur adalah pintu yang akan dimasuki semua orang
Tempat apakah gerangan sesudah pintu kubur ?
Tempat yang nikmat jika anda mengerjakan apa yang diridhai Tuhan
Tapi jika anda melanggar aturanNya, Nerakalah adanya.
Ayyuhal ikhwah Fillah! Marilah kita hayati topik yang sangat penting ini. Topik yang menggambarkan betapa pentingnya situasi ini dan betapa pentingnya apa yang akan kita hadapi. Mudah-mudahan kita bisa menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya.
Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Al-Bara’ bin ‘Azib Radiyallahu ‘anhu ia berkata: “Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melayat jenazah seorang lelaki dari kalangan anshar lalu kami sampai di kuburan. Setelah jenazah dikuburkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk dan kami pun duduk di sekelilingnya seolah-olah di atas kepala kami ada burung ( baca: sambil menundukkan kepala). Sementara beliau memegang sebatang kayu kecil yang beliau gunakan untuk mengoyak tanah. Lalu beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur” sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya ketika seorang hamba yang beriman meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit. Wajah mereka putih bersih laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan parfum dari Surga. Mareka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.” Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti air mengalir dari bibir teko. Malaikat maut pun mengambilnya. Setelah ia mengambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangan malaikat maut barang sekejap mata. Mereka langsung mengambilnya dan membungkusnya dengan kain kafan dan parfum tersebut. Kemudian jiwa itu mengeluarkan aroma seperti aroma minyak kasturi (misik) yang paling harum di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu ) berkata : ‘Apa yang berbau harum ini ? Mereka ( para malaikat pembawa jiwa itu ) menjawab : Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan nama terbaik yang sebelumnya digunakan oleh manusia untuk memanggilnya selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit dan pintu pun dibuka. Di tiap-tiap langit itu para malaikat terdekatnya turut mengantarkannya ke langit berikutnya. Hingga akhirnya ia sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah berfirman : ‘Catatlah buku hambaKu di dalam kelompok tertinggi dan kembalikan dia ke bumi. Karena sesungguhnya dari situlah Aku menciptakan mereka, ke sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain. Kemudian ruhnya dikembalikan (ke bumi). Lalu ia didatangi dua malaikat dan bertanya kepadanya: ‘Siapa Tuhanmu ? ia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya: Apa agamamu ? ia menjawab: Agamaku adalah Islam. Keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? ia menjawab: Dia adalah utusan Allah. Keduanya bertanya: Apa ilmumu ? ia menjawab: Aku telah membaca kitab Allah, lalu aku percaya dan membenarkannya. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: HambaKu benar. Maka berilah dia kasur dari Surga dan berilah dia pakaian dari Surga. Dan bukakanlah pintu menuju Surga untuknya, agar ia mendapatkan aroma dan keharumannya. Dan kuburnya pun dilapangkan sepanjang mata memandang. Lalu ia didatangi seorang yang berwajah rupawan, berpakaian bagus dan berbau harum. Orang itu berkata: “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkan hatimu. Ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang beriman yang mati) bertanya: Siapa kamu ? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Aku adalah amalmu yang shalih, jawabnya. Lalu ia berkata: Ya Tuhanku, laksanakanlah hari kiamat, agar aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.”
Sedangkan ketika seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit dengan wajah yang hitam legam. Mereka membawa kain kasar. Mereka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang jahat, keluarlah menuju murka dan amarah Allah! Lalu ia pun dilepas dari jasadnya. Malaikat maut mencabutnya seperti mencabut tusuk sate dari wool yang basah. Setelah malaikat maut mengambil jiwa tersebut, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkannya berada di tangannya barang sekejap mata pun. Mereka langsung membungkusnya dengan kain kasar tersebut. Dan jiwa itu langsung mengeluarkan bau busuk seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu) berkata: ‘Apa bau yang busuk ini ? Mereka (para malaikat pembawa jiwa itu) menjawab: Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan namanya yang paling jelek selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit tetapi tidak dibukakan.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:
لاَتُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلاَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. (QS. Al-A’raf :40)
Lalu Allah berfirman: “Catatlah bukunya pada Sijjin di dalam bumi yang paling bawah.” Lalu ruhnya dibuang begitu saja.
Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:
وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj :31)
Kemudian ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan ia didatangi oleh dua orang malaikat. Lalu keduanya duduk didekatnya dan bertanya: Siapa tuhanmu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Keduanya bertanya: Apa Agamamu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Lalu keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? Ternyata ia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan padanya: Muhammad. Lantas ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: Hambaku berdusta. Maka berilah dia kasur dari Neraka dan bukakanlah pintu Neraka untuknya, agar hawa panas dan racunnya mengalir kepadanya. Dan kuburnya pun menghempitnya hingga tulang-tulang iganya saling silang di dalamnya. Lalu ia didatangi seseorang berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata: Bergembiralah dengan sesuatu yang buruk bagimu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang kafir yang mati itu) bertanya: Siapa kamu ? Wajahnya adalah wajah yang datang dengan keburukan. Aku adalah amalmu yang buruk, jawabnya. Lalu ia berkata: Tuhanku! Jangan Engkau laksanakan hari kiamat! Tuhanku! Jangan Eangkau laksanakan hari kiamat.”
Sungguh, ini adalah Hadits yang sangat penting. Hadits ini mengambil titik-titik pertemuan hati. Maka bagi setiap orang yang kematian sebagai akhir hayatnya, tanah sebagai tempat tidurnya, ulat sebagai temannya, Maunkar dan Nakir sebagai penanyanya, amalnya sebagai pendampingnya, kuburan sebagai tempat tinggalnya, alam barzakh sebagai persinggahannya, Hari Kiamat sebagai janjinya, dan Surga atau Neraka sebagai akhir perjalanannya, sudah sepantasnya baginya untuk tidak melalaikan detik-detik yang pasti akan dilaluinya ini.
Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Al-Bara’ bin Azib Radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya: ‘Untuk apa mereka itu berkumpul di situ ? Mereka sedang menggali kubur, jawab seseorang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung terkejut dan bergegas mendatangi kubur tersebut. Kemudian beliau berlutut dan menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi tanah. Lalu beliau menghadap ke arah kami dan bersabda: ‘Saudara-saudaraku, untuk hal semacam inilah hendaknya kamu bersiap-siap.”
Demikian pula dengan generasi Salaf yang shalih. Hani’ maula Usman Radiyallahu ‘anhu berkata: Utsman bin Affan apabila berada di dekat kubur (makam) selalu menangis hingga jenggotnya basah dengan air mata. Lalu dia ditanya: ‘Anda berbicara tentang Surga dan Neraka tetapi anda tidak menangis. Namun ketika berbicara tentang kubur, anda selalu menangis ? Utsman menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama menuju Akhirat dari itu seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya akan lebih mudah dari itu. Dan jika ia tidak selamat darinya maka yang sesudahnya akan lebih berat dari itu. (HR. Ahmad, 2/292, At-Tirmidzi, 2308, dan Ibnu Majah, 4267 )
Tsabit Al-Bunani berkata: “Dulu apabila kami menyaksikan jenazah, semua orang menundukkan kepala sambil menangis.”
Begitu besar ketakutan mereka dan begitu kuat iman mereka. Bagaimana dengan kondisi kita sekarang ?!
Jenazah-jenazah membuat kita ketakutan ketika datang
Lalu kita kembali bercanda ria setelah mereka berlalu
Allahul musta’an ! (Hanya Allah tempat memohon)
Dalam sebuah Hadits disebutkan:
“Sesungguhnya kubur tidak lain adalah salah satu taman Surga atau jurang Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, 2460 )
Dan disebutkan bahwa kubur berkata: “Hai kamu, anak Adam! Apa yang membuatmu terlena ? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah rumah kegelapan, rumah keterasingan, rumah kesendirian, dan rumah ulat.”
Aku datang ke kubur lalu berseru
Di mana orang terhormat dan orang jelata ?
Mereka semua binasa lalu tak ada yang memberitakan
Mereka semua mati dan berita mereka pun mati
Ulat-ulat belatung datang pagi dan petang
Lalu menghabisi keelokan bentuk tubuh itu
Wahai orang yang bertanya padaku Tentang orang-orang yang telah lalu
Tidakkah anda punya pelajaran berharga
Dari orang-orang yang telah lalu
Abu Darda’ Radiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah pergi ke makam bersama Umar bin Abdul Aziz. Begitu melihat kuburan ia langsung menangis. Lalu ia menghadap ke arahku dan berkata: ‘Hai Maimun, ini adalah kuburan para leluhur Bani Umayyah. Seolah-olah mereka tidak pernah berbagi kesenangan dan kehidupan dengan dengan penduduk dunia. Tidakkah kau lihat mereka semua mati dan telah menerima hukuman. Mereka ditimpa petaka dan tubuh mereka pun tidak berharga. Lalu Umar menangis dan berkata: ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang beriman di antara mereka yang telah masuk ke liang kubur itu merasa aman dari siksa Allah.”
Jadi, ingatlah selalu masa depan yang pasti akan kita alami itu. Bersiap-siaplah untuk menghadapinya dengan taubat dan amal shalih.
“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu agar Engkau berkenan memelihara kami dari fitnah kubur. Ya Allah, jadikanlah kubur setelah berpisah dengan dunia ini sebagai persinggahan terbaik kami dan lapangkanlah liang lahat kami. Ya Allah, tolonglah kami dalam menghadapi kematian dan sakaratnya, kubur dan kegelapannya, padang mahsyar dan kesulitannya, shirath (jembatan menuju Surga) dan ketergelincirannya, wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus makhlukNya.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
Khutbah Kedua
Amma ba’du:
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah :281)
Ibadallah! Ketika berbicara tentang masalah masa depan ini, setiap muslim harus fokus pada keharusan mengubah masalah keyakinan ini menjadi kenyataan pikiran dan prilaku nyata di dalam hudupnya. Dalam arti bahwa setiap orang yang percaya bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur harus benar-benar yakin bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya dari kesepian dan siksaan kubur selain beriman kepada Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seandainya kita benar-benar percaya akan hal itu, niscaya kita tidak akan menjumpai orang yang menodai akidah, merusak mutaba’ah (mengikuti Sunnah Rasul), berzina, menjalankan riba, berbuat zalim, berdusta, menipu, atau menyakiti orang lain. Karena ia tahu bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur. Setelah itu, ia akan ditanya tentang amal perbuatannya. Dan setelah keluarga, anak-anak dan harta bendanya kembali kerumah, tinggal malnya saja yang menemaninya.
Namun, harapan masih banyak. Kita harus tetap bersemangat. Para ulama dan muballigh harus bisa mempertajam cita-cita, menggerakkan tekad dan melembutkan hati dengan nasihat-nasihat semacam ini. Mudah-mudahan cara ini dapat menggerakkan sumbu, menyalakan api dan menerangi jalan.
Siapkanlah bekal anda, wahai hamba-hamba Allah! Wahai orang-orang yang lalai! Ingatlah masa depan yang pasti ini. Hitunglah amal anda sebelum dihitung oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Wahai orang-orang terpedaya oleh dunia, yang halal maupun yang haram, ingatlah kubur dan pikirkanlah tidur anda di dalam timbunan tanah.
Wahai pemuda yang suka bersenang-senang, bermain-main dan asyik dengan kelalaian dan kesenangannya, sadarlah sebelum habis waktu anda.
Wahai wanita yang suka menyia-nyiakan hak-hak Allah, hak-hak dirinya, suaminya dan anak-anaknya, ingatlah apa yang akan anda hadapi.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّاخَوَّلْنَاكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia) apa yang telah kamu kurniakan kepadamu. (QS. Al-An’am :94)
Lakukanlah apa saja yang bisa menyelamatkan anda dari siksa kubur, seperti taubat nasuhaa, amal shalih, menghitung-hitung diri, rajin berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan membaca Istighfar dengan niat yang benar, ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dan hadirilah apa saja yang bisa memicu datangnya siksa kubur, seperti menggunjing, menyebar fitnah (mengadu domba), dan tidak menjaga diri dari percikan air kencing. Karena Rasulullah pernah melewati dua buah kuburan lalu beliau bersabda:
“Susungguhnya mereka berdua benar-benar sedang disiksa dalam perkara yang besar. Salah satu dari mereka dahulu tidak menutup diri dari air kencing. Sedangkan yang lain dahulu suka mengadu domba.” (Shahih Al-Bukhari, 218 dan Shahih Muslim, 292)
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Jagalah kebersihanmu dari air kencing Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur disebabkan karena hal itu.” (HR. Ad-Daruquthni, 1/128 dan Al-Hakim, 1/183)
Termasuk yang bisa menyebabkan datangnya siksa kubur ialah riya’ (pamer), menjalankan praktik riba, berbuat zina, dan semua perbuatan maksiat.
Ibadallah! Kita harus memperbaharui taubat yang nasuhaa. Kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari terkenan dan himpitan liang kubur. Karena Ummul Mukminin Aisyah Radiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kubur itu memiliki tekanan. Seandainya ada orang yang bisa selamat darinya, niscaya Sa’ad bin Mu’adz selamat darinya.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya, 1114, Ahmad, 6/55 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar, 273)
Ayyuhal ikhwah! Bagian luar kubur adalah tanah biasa. Tapi bagian dalamnya bagi orang yang durhaka kepada Allah adalah penyesalan dan siksaan.
Inilah sekilas evaluasi diri sebelum ajal menjemput kita. Mudah-mudahan dapat mendorong kita semua untuk melakukan taubat yang nasuhaa.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Kubur Adalah Gerbang Akhirat
Khutbah Pertama :
Amma ba’du :
Ibadallah! Saya berwasiat kepada anda semua agar senantiasa bertakwa kepada Allah Yang Maha Mangetahui segala rahasia. Bertakwalah kepadaNya secara lahir dan batin. Karena takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala adalah bekal terbaik untuk memasuki alam kubur dan hari akhir. Hari di saat semua rahasia terbongkar dan apa yang tersembunyi menjadi terbuka. Hari ketika hati terdesak ke kerongkongan. Hari saat harta benda dan kekayaan tidak lagi berguna.
Ibadallah! Siapakah yang akan kekal dan abadi ? Siapakah yang menetapkan kematian atas seluruh makhluk ? Siapakah yang akan terus hidup dan tidak akan mati ? Siapakah satu-satunya yang akan tetap bertahan ? Siapakah yang akan tetap ada dan tidak akan hilang ? Siapakah satu-satunya yang tidak akan berubah ? Dialah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Gagah. Dialah yang menetapkan kematian atas seluruh hamba. Sedangkan Dia tidak akan pernah hilang dan musnah.
Ma’syiral muslimin rahimani warahimakumullah! Orang yang diburu oleh maut, mana mungkin bisa merasakan nikmatnya hidup ? Dan orang yang akan tinggal di dalam kubur, mana mungkin menganggap dunia sebagai tempat terbaiknya ? Kita terlalu asyik dengan harta, rumah, anak dan istana, sehingga kita lupa bahwa kita semua pasti akan masuk ke liang kubur. Kita terlena dengan hal-hal baru sehingga lupa akan masa depan kita di alam kubur. Ketika kekuatan iman menurun dan perasaan melemah, kita menjadi lupa bahwa kita akan dikubur di dalam tanah. Hanya kepada Allahlah kita mengadukan kekerasan hati kita akibat banyaknya bencana dan malapetaka yang menimpa.
Wahai umat Islam! Jiwa kita pasti sangat tersentak saat kita mengantar orang-orang tercinta ke liang lahat. Dan hati kita pasti sangat terguncang saat berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi. Tapi bagi orang-orang yang beriman kepada qadla dan qadar Allah, dan mengetahui bahwa hal itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi makhlukNya (hukum Allah pada alam), tidak ada pilihan lain selain berlapang dada dan bersikap pasrah. Tetapi anehnya, banyak sekali orang yang larut dalam kebodohannya dan terombang-ambing dalam kemabukannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS. Al-Anbiyaa’ :1)
Seolah-olah kebenaran adalah kewajiban orang lain. Seakan-akan kematian adalah ketetapan bagi orang lain. Di saat kita dikepung oleh budaya kebendaan (materialisme), disibukkan dengan permainan yang menggoda, dan ditenggelamkan dalam kubangan kenikmatan dan kesenangan, hingga merasuk ke dalam hati dan meresap ke dalam jiwa. Bahkan kita merasa seolah-olah kekal di dunia ini. Dalam keadaan semacam ini, kita benar-benar perlu berhenti sejenak untuk menghadapi masa depan yang pasti akan kita lalui. Khususnya setelah dunia nyaris membawa banyak manusia menjauh dari pantai keselamatan dan melemparkan mereka ke jurang kehancuran dan kesesatan. Mudah-mudahan Allah berkenan menghindarkan kita dari murkaNya dan siksaNya yang sangat pedih.
Wahai orang-orang yang beriman! Pernahkah kita bertanya pada diri kita, apakah hidup akan terus begini, ataukah kubur akan menjadi persinggahan kita setelah ini ? Pernahkah kita bertanya kepada diri kita tentang puluhan jenazah yang kita shalati, kemanakah mereka pergi ? Apa yang akan mereka hadapi ? Bagaimanakah keadaan mereka ? Apa yang akan mereka alami ? Dan bagaimanakah nasib mereka nanti ? Tepat sekali apa yang dikatakan penyair berikut ini :
Kematian itu bisa dihindari dan dijauhi
Bila ini turun dari ranjangnya, itu naik ke atasnya
Kita menginginkan banyak hal dan mengharapkan hasilnya
Tapi boleh jadi kematian lebih dekat dari harapan kita
Kita bangun istana-istana menjulang tinggi di angkasa
Padahal kita tahu bahwa kita pasti akan mati
Dan istana-istana itu pasti akan hancur
Kepada Allah kita mengadukan kerasnya hati kita
Setiap hati peringatan kematian selalu datang
Demi Allah, setiap pagi dan petang hari banyak sekali orang tercinta
Yang kita antar ke liang kuburnya
Dengan deraian air mata
Kita timbun tubuhnya dengan tanah bagai musuh saja
Sementara di dalam hati ada api yang membara
Liang kubur telah menampung orang-orang dulu dan orang-orang belakangan, dimasuki anak-anak kecil dan orang-orang dewasa, dipenuhi rakyat dan pejabat. Liang kubur menghimpun para Nabi, para ulama, orang-orang kaya, orang-orang miskin, rakyat jelata, pejabat tinggi, laki-laki dan wanita.
Kubur adalah pintu yang akan dimasuki semua orang
Tempat apakah gerangan sesudah pintu kubur ?
Tempat yang nikmat jika anda mengerjakan apa yang diridhai Tuhan
Tapi jika anda melanggar aturanNya, Nerakalah adanya.
Ayyuhal ikhwah Fillah! Marilah kita hayati topik yang sangat penting ini. Topik yang menggambarkan betapa pentingnya situasi ini dan betapa pentingnya apa yang akan kita hadapi. Mudah-mudahan kita bisa menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya.
Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Al-Bara’ bin ‘Azib Radiyallahu ‘anhu ia berkata: “Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melayat jenazah seorang lelaki dari kalangan anshar lalu kami sampai di kuburan. Setelah jenazah dikuburkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk dan kami pun duduk di sekelilingnya seolah-olah di atas kepala kami ada burung ( baca: sambil menundukkan kepala). Sementara beliau memegang sebatang kayu kecil yang beliau gunakan untuk mengoyak tanah. Lalu beliau mengangkat kepala dan bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur” sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya ketika seorang hamba yang beriman meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit. Wajah mereka putih bersih laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan parfum dari Surga. Mareka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.” Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti air mengalir dari bibir teko. Malaikat maut pun mengambilnya. Setelah ia mengambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangan malaikat maut barang sekejap mata. Mereka langsung mengambilnya dan membungkusnya dengan kain kafan dan parfum tersebut. Kemudian jiwa itu mengeluarkan aroma seperti aroma minyak kasturi (misik) yang paling harum di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu ) berkata : ‘Apa yang berbau harum ini ? Mereka ( para malaikat pembawa jiwa itu ) menjawab : Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan nama terbaik yang sebelumnya digunakan oleh manusia untuk memanggilnya selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit dan pintu pun dibuka. Di tiap-tiap langit itu para malaikat terdekatnya turut mengantarkannya ke langit berikutnya. Hingga akhirnya ia sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah berfirman : ‘Catatlah buku hambaKu di dalam kelompok tertinggi dan kembalikan dia ke bumi. Karena sesungguhnya dari situlah Aku menciptakan mereka, ke sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah aku akan mengeluarkan mereka pada kali yang lain. Kemudian ruhnya dikembalikan (ke bumi). Lalu ia didatangi dua malaikat dan bertanya kepadanya: ‘Siapa Tuhanmu ? ia menjawab: Tuhanku adalah Allah. Keduanya bertanya: Apa agamamu ? ia menjawab: Agamaku adalah Islam. Keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? ia menjawab: Dia adalah utusan Allah. Keduanya bertanya: Apa ilmumu ? ia menjawab: Aku telah membaca kitab Allah, lalu aku percaya dan membenarkannya. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: HambaKu benar. Maka berilah dia kasur dari Surga dan berilah dia pakaian dari Surga. Dan bukakanlah pintu menuju Surga untuknya, agar ia mendapatkan aroma dan keharumannya. Dan kuburnya pun dilapangkan sepanjang mata memandang. Lalu ia didatangi seorang yang berwajah rupawan, berpakaian bagus dan berbau harum. Orang itu berkata: “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkan hatimu. Ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang beriman yang mati) bertanya: Siapa kamu ? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Aku adalah amalmu yang shalih, jawabnya. Lalu ia berkata: Ya Tuhanku, laksanakanlah hari kiamat, agar aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.”
Sedangkan ketika seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju Akhirat ada banyak malaikat yang turun dari langit dengan wajah yang hitam legam. Mereka membawa kain kasar. Mereka duduk di dekatnya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: “Wahai jiwa yang jahat, keluarlah menuju murka dan amarah Allah! Lalu ia pun dilepas dari jasadnya. Malaikat maut mencabutnya seperti mencabut tusuk sate dari wool yang basah. Setelah malaikat maut mengambil jiwa tersebut, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkannya berada di tangannya barang sekejap mata pun. Mereka langsung membungkusnya dengan kain kasar tersebut. Dan jiwa itu langsung mengeluarkan bau busuk seperti bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Lalu mereka membawanya naik ke atas. Dan setiap kali mereka melewati kumpulan malaikat, mereka (yang dilewati itu) berkata: ‘Apa bau yang busuk ini ? Mereka (para malaikat pembawa jiwa itu) menjawab: Fulan bin Fulan. Mereka menyebutnya dengan namanya yang paling jelek selama di dunia. Mereka terus naik ke atas sampai tiba di langit terdekat. Lalu mereka minta izin untuk dibukakan pintu langit tetapi tidak dibukakan.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:
لاَتُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلاَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. (QS. Al-A’raf :40)
Lalu Allah berfirman: “Catatlah bukunya pada Sijjin di dalam bumi yang paling bawah.” Lalu ruhnya dibuang begitu saja.
Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca ayat:
وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj :31)
Kemudian ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan ia didatangi oleh dua orang malaikat. Lalu keduanya duduk didekatnya dan bertanya: Siapa tuhanmu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Keduanya bertanya: Apa Agamamu ? Ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Lalu keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus di antara kamu ini ? Ternyata ia tidak tahu namanya. Lalu dikatakan padanya: Muhammad. Lantas ia menjawab: Ha?! Ha?! Aku tidak tahu. Kemudian ada seruan dari langit yang berbunyi: Hambaku berdusta. Maka berilah dia kasur dari Neraka dan bukakanlah pintu Neraka untuknya, agar hawa panas dan racunnya mengalir kepadanya. Dan kuburnya pun menghempitnya hingga tulang-tulang iganya saling silang di dalamnya. Lalu ia didatangi seseorang berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata: Bergembiralah dengan sesuatu yang buruk bagimu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu. Ia (orang kafir yang mati itu) bertanya: Siapa kamu ? Wajahnya adalah wajah yang datang dengan keburukan. Aku adalah amalmu yang buruk, jawabnya. Lalu ia berkata: Tuhanku! Jangan Engkau laksanakan hari kiamat! Tuhanku! Jangan Eangkau laksanakan hari kiamat.”
Sungguh, ini adalah Hadits yang sangat penting. Hadits ini mengambil titik-titik pertemuan hati. Maka bagi setiap orang yang kematian sebagai akhir hayatnya, tanah sebagai tempat tidurnya, ulat sebagai temannya, Maunkar dan Nakir sebagai penanyanya, amalnya sebagai pendampingnya, kuburan sebagai tempat tinggalnya, alam barzakh sebagai persinggahannya, Hari Kiamat sebagai janjinya, dan Surga atau Neraka sebagai akhir perjalanannya, sudah sepantasnya baginya untuk tidak melalaikan detik-detik yang pasti akan dilaluinya ini.
Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad jayyid dari Al-Bara’ bin Azib Radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika kami sedang bersama Rasulullah tiba-tiba beliau melihat sekelompok orang. Lalu beliau bertanya: ‘Untuk apa mereka itu berkumpul di situ ? Mereka sedang menggali kubur, jawab seseorang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung terkejut dan bergegas mendatangi kubur tersebut. Kemudian beliau berlutut dan menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi tanah. Lalu beliau menghadap ke arah kami dan bersabda: ‘Saudara-saudaraku, untuk hal semacam inilah hendaknya kamu bersiap-siap.”
Demikian pula dengan generasi Salaf yang shalih. Hani’ maula Usman Radiyallahu ‘anhu berkata: Utsman bin Affan apabila berada di dekat kubur (makam) selalu menangis hingga jenggotnya basah dengan air mata. Lalu dia ditanya: ‘Anda berbicara tentang Surga dan Neraka tetapi anda tidak menangis. Namun ketika berbicara tentang kubur, anda selalu menangis ? Utsman menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama menuju Akhirat dari itu seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya akan lebih mudah dari itu. Dan jika ia tidak selamat darinya maka yang sesudahnya akan lebih berat dari itu. (HR. Ahmad, 2/292, At-Tirmidzi, 2308, dan Ibnu Majah, 4267 )
Tsabit Al-Bunani berkata: “Dulu apabila kami menyaksikan jenazah, semua orang menundukkan kepala sambil menangis.”
Begitu besar ketakutan mereka dan begitu kuat iman mereka. Bagaimana dengan kondisi kita sekarang ?!
Jenazah-jenazah membuat kita ketakutan ketika datang
Lalu kita kembali bercanda ria setelah mereka berlalu
Allahul musta’an ! (Hanya Allah tempat memohon)
Dalam sebuah Hadits disebutkan:
“Sesungguhnya kubur tidak lain adalah salah satu taman Surga atau jurang Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, 2460 )
Dan disebutkan bahwa kubur berkata: “Hai kamu, anak Adam! Apa yang membuatmu terlena ? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah rumah kegelapan, rumah keterasingan, rumah kesendirian, dan rumah ulat.”
Aku datang ke kubur lalu berseru
Di mana orang terhormat dan orang jelata ?
Mereka semua binasa lalu tak ada yang memberitakan
Mereka semua mati dan berita mereka pun mati
Ulat-ulat belatung datang pagi dan petang
Lalu menghabisi keelokan bentuk tubuh itu
Wahai orang yang bertanya padaku Tentang orang-orang yang telah lalu
Tidakkah anda punya pelajaran berharga
Dari orang-orang yang telah lalu
Abu Darda’ Radiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah pergi ke makam bersama Umar bin Abdul Aziz. Begitu melihat kuburan ia langsung menangis. Lalu ia menghadap ke arahku dan berkata: ‘Hai Maimun, ini adalah kuburan para leluhur Bani Umayyah. Seolah-olah mereka tidak pernah berbagi kesenangan dan kehidupan dengan dengan penduduk dunia. Tidakkah kau lihat mereka semua mati dan telah menerima hukuman. Mereka ditimpa petaka dan tubuh mereka pun tidak berharga. Lalu Umar menangis dan berkata: ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang beriman di antara mereka yang telah masuk ke liang kubur itu merasa aman dari siksa Allah.”
Jadi, ingatlah selalu masa depan yang pasti akan kita alami itu. Bersiap-siaplah untuk menghadapinya dengan taubat dan amal shalih.
“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu agar Engkau berkenan memelihara kami dari fitnah kubur. Ya Allah, jadikanlah kubur setelah berpisah dengan dunia ini sebagai persinggahan terbaik kami dan lapangkanlah liang lahat kami. Ya Allah, tolonglah kami dalam menghadapi kematian dan sakaratnya, kubur dan kegelapannya, padang mahsyar dan kesulitannya, shirath (jembatan menuju Surga) dan ketergelincirannya, wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus makhlukNya.
بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
Khutbah Kedua
Amma ba’du:
Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah :281)
Ibadallah! Ketika berbicara tentang masalah masa depan ini, setiap muslim harus fokus pada keharusan mengubah masalah keyakinan ini menjadi kenyataan pikiran dan prilaku nyata di dalam hudupnya. Dalam arti bahwa setiap orang yang percaya bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur harus benar-benar yakin bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya dari kesepian dan siksaan kubur selain beriman kepada Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seandainya kita benar-benar percaya akan hal itu, niscaya kita tidak akan menjumpai orang yang menodai akidah, merusak mutaba’ah (mengikuti Sunnah Rasul), berzina, menjalankan riba, berbuat zalim, berdusta, menipu, atau menyakiti orang lain. Karena ia tahu bahwa dirinya akan masuk ke liang kubur. Setelah itu, ia akan ditanya tentang amal perbuatannya. Dan setelah keluarga, anak-anak dan harta bendanya kembali kerumah, tinggal malnya saja yang menemaninya.
Namun, harapan masih banyak. Kita harus tetap bersemangat. Para ulama dan muballigh harus bisa mempertajam cita-cita, menggerakkan tekad dan melembutkan hati dengan nasihat-nasihat semacam ini. Mudah-mudahan cara ini dapat menggerakkan sumbu, menyalakan api dan menerangi jalan.
Siapkanlah bekal anda, wahai hamba-hamba Allah! Wahai orang-orang yang lalai! Ingatlah masa depan yang pasti ini. Hitunglah amal anda sebelum dihitung oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Wahai orang-orang terpedaya oleh dunia, yang halal maupun yang haram, ingatlah kubur dan pikirkanlah tidur anda di dalam timbunan tanah.
Wahai pemuda yang suka bersenang-senang, bermain-main dan asyik dengan kelalaian dan kesenangannya, sadarlah sebelum habis waktu anda.
Wahai wanita yang suka menyia-nyiakan hak-hak Allah, hak-hak dirinya, suaminya dan anak-anaknya, ingatlah apa yang akan anda hadapi.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّاخَوَّلْنَاكُمْ وَرَآءَ ظُهُورِكُمْ
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia) apa yang telah kamu kurniakan kepadamu. (QS. Al-An’am :94)
Lakukanlah apa saja yang bisa menyelamatkan anda dari siksa kubur, seperti taubat nasuhaa, amal shalih, menghitung-hitung diri, rajin berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan membaca Istighfar dengan niat yang benar, ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dan hadirilah apa saja yang bisa memicu datangnya siksa kubur, seperti menggunjing, menyebar fitnah (mengadu domba), dan tidak menjaga diri dari percikan air kencing. Karena Rasulullah pernah melewati dua buah kuburan lalu beliau bersabda:
“Susungguhnya mereka berdua benar-benar sedang disiksa dalam perkara yang besar. Salah satu dari mereka dahulu tidak menutup diri dari air kencing. Sedangkan yang lain dahulu suka mengadu domba.” (Shahih Al-Bukhari, 218 dan Shahih Muslim, 292)
Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Jagalah kebersihanmu dari air kencing Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur disebabkan karena hal itu.” (HR. Ad-Daruquthni, 1/128 dan Al-Hakim, 1/183)
Termasuk yang bisa menyebabkan datangnya siksa kubur ialah riya’ (pamer), menjalankan praktik riba, berbuat zina, dan semua perbuatan maksiat.
Ibadallah! Kita harus memperbaharui taubat yang nasuhaa. Kita harus memohon perlindungan kepada Allah dari terkenan dan himpitan liang kubur. Karena Ummul Mukminin Aisyah Radiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kubur itu memiliki tekanan. Seandainya ada orang yang bisa selamat darinya, niscaya Sa’ad bin Mu’adz selamat darinya.” (HR. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya, 1114, Ahmad, 6/55 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar, 273)
Ayyuhal ikhwah! Bagian luar kubur adalah tanah biasa. Tapi bagian dalamnya bagi orang yang durhaka kepada Allah adalah penyesalan dan siksaan.
Inilah sekilas evaluasi diri sebelum ajal menjemput kita. Mudah-mudahan dapat mendorong kita semua untuk melakukan taubat yang nasuhaa.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Mengetahui Isi Hati Orang Lain
Orang mengetahui isi hatinya sendiri yang belum dia ucapkan dan lakukan adalah hal yang biasa, bagaimana tidak sementara hal itu ada pada dirinya, tetapi bagaimana bila orang mengetahui apa yang ada di hati orang lain, padahal orang lain itu hanya berbicara dalam hati, belum mengucapkannya kepada siapa pun? Mungkin sebagian kalangan memungkiri hal ini. Mustahil, katanya. Dari mana cara dan jalannya? Ternyata ada jalannya dan sepertinya jalan inilah yang dipakai oleh sang dukun untuk menerka apa yang ada dalam hati orang atau mengatakan tempat barang yang hilang. Bacalah keterangan berikut, Anda akan berkata, “Oh, begitu toh.”
Ibnu Abu Dawud meriwayatkan dari al-Mutthalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Umar bin al-Khatthab membicarakan seorang wanita dalam hatinya namun tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu seorang laki-laki datang kepada Umar dan berkata, “Engkau membicarakan fulanah bahwa dia adalah wanita mulia lagi cantik di keluarga yang baik.” Umar bertanya, “Siapa yang menyampaikannya kepadamu?” Dia menjawab, ‘Orang-orang membicarakannya.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu dari mana?” Dia menjawab, “Al-Khannas yang membawanya keluar.” Dan al-Khannas adalah yang yuwaswisu fi shudurin nas
.
Abu al-Jauza` berkata, “Aku mentalak istriku hari Jum’at dan dalam hatiku ingin merujuknya di hari Jum’at berikutnya, aku belum mengatakannya kepada siapa pun. Namun istriku berkata, “Kamu ingin merujukku di hari Jum’at?” Aku bertanya, “Aku belum mengatakannya kepada siapa pun.” Abu al-Jauza` berkata, “Namun aku teringat kata-kata Ibnu Abbas bahwa setan seseorang mengabarkan kepada setan orang lain, dari sanalah pembicaraan menyebar.”
Seorang laki-laki dihadapkan kepada al-Hajjaj bin Yusuf dengan tuduhan sebagai tukang sihir. Al-Hajjaj bertanya, “Kamu tukang sihir?” Dia menjawab, ‘Tidak.” Lalu al-Hajjaj mengambil kerikil dengan telapak tangannya dan dia menghitungnya, lalu dia bertanya kepada laki-laki itu, “Berapa kerikil di tanganku?” Laki-laki itu menjawab, “Sekian.” Lalu al-Hajjaj membuang kerikil dan mengambil kerikil baru namun kali ini dia tidak menghitungnya, dia bertanya, “Berapa kerikil di tanganku?” Dia menjawab, ‘Tidak tahu.” Al-Hajjaj berkata, “Untuk yang pertama kamu tahu, mengapa yang kedua tidak?” Dia menjawab, “Yang pertama karena kamu menghitungnya maka kamu mengetahuinya, maka setanmu juga mengetahui dan dia mengabarkan kepada setanku. Untuk yang kedua engkau tidak mengetahuinya maka setanmu juga tidak mengetahuinya sehingga dia tidak mengabarkan kepada setanku, maka aku tidak tahu.”
Mu'awiyah bin Abu Sufyan bahwa dia memerintahkan katibnya agar menulis kitab tentang rahasia, saat katibnya menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di sebuah huruf dari apa yang ditulis, maka katib itu memukulnya dengan pena, maka sebagian kaki lalat itu terputus. Selanjutnya katib itu keluar dan orang-orang menyambutnya di pintu istana, mereka berkata, “Amirul Mukminin menulis begini dan begini.” Dia bertanya, “Dari mana kalian tahu?” Mereka berkata, “Seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus, dia datang kepada kami dan mengatakannya kepada kami.” Lalu katib tersebut kembali kepada Mu'awiyah dan berkata, “Amirul Mukminin, rahasia yang engkau perintahkan kepadaku agar aku menulisnya sudah diketahui oleh orang-orang.” Mu'awiyah bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Dia menjawab, “Kata mereka seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus datang kepada mereka dan memberitahu mereka.” Mu'awiyah berkata, “Dia demi Allah yang jiwaku ada di tangannya adalah setan, ia adalah lalat yang kamu pukul dengan pena.” Wallahu a'lam.
Dari Akamul Marjan fi Ahkamil Jan, Badruddin Abdullah asy-Syibli.
Mengetahui Isi Hati Orang Lain
Orang mengetahui isi hatinya sendiri yang belum dia ucapkan dan lakukan adalah hal yang biasa, bagaimana tidak sementara hal itu ada pada dirinya, tetapi bagaimana bila orang mengetahui apa yang ada di hati orang lain, padahal orang lain itu hanya berbicara dalam hati, belum mengucapkannya kepada siapa pun? Mungkin sebagian kalangan memungkiri hal ini. Mustahil, katanya. Dari mana cara dan jalannya? Ternyata ada jalannya dan sepertinya jalan inilah yang dipakai oleh sang dukun untuk menerka apa yang ada dalam hati orang atau mengatakan tempat barang yang hilang. Bacalah keterangan berikut, Anda akan berkata, “Oh, begitu toh.”
Ibnu Abu Dawud meriwayatkan dari al-Mutthalib bin Abdullah bin Hanthab bahwa Umar bin al-Khatthab membicarakan seorang wanita dalam hatinya namun tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu seorang laki-laki datang kepada Umar dan berkata, “Engkau membicarakan fulanah bahwa dia adalah wanita mulia lagi cantik di keluarga yang baik.” Umar bertanya, “Siapa yang menyampaikannya kepadamu?” Dia menjawab, ‘Orang-orang membicarakannya.” Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak mengatakannya kepada siapa pun, lalu dari mana?” Dia menjawab, “Al-Khannas yang membawanya keluar.” Dan al-Khannas adalah yang yuwaswisu fi shudurin nas
.
Abu al-Jauza` berkata, “Aku mentalak istriku hari Jum’at dan dalam hatiku ingin merujuknya di hari Jum’at berikutnya, aku belum mengatakannya kepada siapa pun. Namun istriku berkata, “Kamu ingin merujukku di hari Jum’at?” Aku bertanya, “Aku belum mengatakannya kepada siapa pun.” Abu al-Jauza` berkata, “Namun aku teringat kata-kata Ibnu Abbas bahwa setan seseorang mengabarkan kepada setan orang lain, dari sanalah pembicaraan menyebar.”
Seorang laki-laki dihadapkan kepada al-Hajjaj bin Yusuf dengan tuduhan sebagai tukang sihir. Al-Hajjaj bertanya, “Kamu tukang sihir?” Dia menjawab, ‘Tidak.” Lalu al-Hajjaj mengambil kerikil dengan telapak tangannya dan dia menghitungnya, lalu dia bertanya kepada laki-laki itu, “Berapa kerikil di tanganku?” Laki-laki itu menjawab, “Sekian.” Lalu al-Hajjaj membuang kerikil dan mengambil kerikil baru namun kali ini dia tidak menghitungnya, dia bertanya, “Berapa kerikil di tanganku?” Dia menjawab, ‘Tidak tahu.” Al-Hajjaj berkata, “Untuk yang pertama kamu tahu, mengapa yang kedua tidak?” Dia menjawab, “Yang pertama karena kamu menghitungnya maka kamu mengetahuinya, maka setanmu juga mengetahui dan dia mengabarkan kepada setanku. Untuk yang kedua engkau tidak mengetahuinya maka setanmu juga tidak mengetahuinya sehingga dia tidak mengabarkan kepada setanku, maka aku tidak tahu.”
Mu'awiyah bin Abu Sufyan bahwa dia memerintahkan katibnya agar menulis kitab tentang rahasia, saat katibnya menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di sebuah huruf dari apa yang ditulis, maka katib itu memukulnya dengan pena, maka sebagian kaki lalat itu terputus. Selanjutnya katib itu keluar dan orang-orang menyambutnya di pintu istana, mereka berkata, “Amirul Mukminin menulis begini dan begini.” Dia bertanya, “Dari mana kalian tahu?” Mereka berkata, “Seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus, dia datang kepada kami dan mengatakannya kepada kami.” Lalu katib tersebut kembali kepada Mu'awiyah dan berkata, “Amirul Mukminin, rahasia yang engkau perintahkan kepadaku agar aku menulisnya sudah diketahui oleh orang-orang.” Mu'awiyah bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Dia menjawab, “Kata mereka seorang laki-laki Habasyah kakinya terputus datang kepada mereka dan memberitahu mereka.” Mu'awiyah berkata, “Dia demi Allah yang jiwaku ada di tangannya adalah setan, ia adalah lalat yang kamu pukul dengan pena.” Wallahu a'lam.
Dari Akamul Marjan fi Ahkamil Jan, Badruddin Abdullah asy-Syibli.
Selamat & Sukses : Idul Adha dan Manasik Haji 1432 H
Posted by LAREALIT 10 DZULHIJAH 1432 H
Seperti pada tahun sebelumnya, setiap bulan Dzulhijjah, keluarga besar Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel selalu mengadakan agenda rutin yakni kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji. Kali ini yang mendapatkan tanggung jawab sebagai ketua panitia adalah Bpk. Ahmad Muzamil,S.Pd.I
Dalam rencana pelaksanaanya, kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Dari kegiatan qurban, InsyaAllah tahun ini bapak-bapak Paguyuban jakarta (arisan qurban) akan berqurban 2 ekor Sapi, ini berbeda dengan tahun yang lalu beberapa ekor Kambing. Sementara itu untuk kegiatan manasik haji,
Adapun agenda kegiatan Idul Adha dan Manasik haji ini akan berlangsung selama1 hari yakni tanggal10 dzulhijah 1432.
Semoga dalam pelaksanaanya, kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji tahun 1432 H ini yang telah bejalan sukses sesuai apa yang menjadi harapan keluarga besar Madin Salafiyah Karangpakel akan bisa memberi nilai hasanah bagi para santri dan para masyarakat yang ikut menyaksikan kegiatan tersebut sebagai gambaran pelaksanaan Ibadah Haji yang sebenarnya Keluarga besar Maddin Salafiyah Karangpakel mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H.
Selamat & Sukses : Idul Adha dan Manasik Haji 1432 H
Posted by LAREALIT 10 DZULHIJAH 1432 H
Seperti pada tahun sebelumnya, setiap bulan Dzulhijjah, keluarga besar Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel selalu mengadakan agenda rutin yakni kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji. Kali ini yang mendapatkan tanggung jawab sebagai ketua panitia adalah Bpk. Ahmad Muzamil,S.Pd.I
Dalam rencana pelaksanaanya, kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Dari kegiatan qurban, InsyaAllah tahun ini bapak-bapak Paguyuban jakarta (arisan qurban) akan berqurban 2 ekor Sapi, ini berbeda dengan tahun yang lalu beberapa ekor Kambing. Sementara itu untuk kegiatan manasik haji,
Adapun agenda kegiatan Idul Adha dan Manasik haji ini akan berlangsung selama1 hari yakni tanggal10 dzulhijah 1432.
Semoga dalam pelaksanaanya, kegiatan Idul Adha dan Manasik Haji tahun 1432 H ini yang telah bejalan sukses sesuai apa yang menjadi harapan keluarga besar Madin Salafiyah Karangpakel akan bisa memberi nilai hasanah bagi para santri dan para masyarakat yang ikut menyaksikan kegiatan tersebut sebagai gambaran pelaksanaan Ibadah Haji yang sebenarnya Keluarga besar Maddin Salafiyah Karangpakel mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H.
Makna Ibadah Qurban Bagi Pemberdayaan Mustadh'afin
Sekarang ini, orang sering dengan mudah menguras isi koceknya untuk diri, partai, dan kelompok kepetingannya. Tetapi, betapa sulit menemukan orang yang bersedia melakukan hal serupa bagi kepentingan rakyat banyak yang tidak ada kaitan langsung dengan kemenangan pencalonan kepala daerah, kepentingan partainya dan atau kepentingan kelompoknya.
Ini bisa kita lihat dengan mudah pada saat pemilu sebagaimana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang memilih gubernur dan bupati atau wali kota. Meski sulit dibuktikan secara hukum, masyarakat sebanarnya paham betul berapa uang yang disiapkan untuk kerja tim sukses seorang calon kepala daerah. Sementara itu, jarang sekali –untuk tidak menyatakannya tidak ada- penguasa (birokrat atau politisi) yang berani melakukan hal serupa dengan membiayai pendidikan anak-anak miskin, yatim-piatu dan korban “bencana alam” dan korban penggusuran.

Dalam kenyataan sehari-hari, jarang ditemukan penguasa atau pejabat (birokrat di puncak kekuasaan, DPR/DPD/DPRD) yang berpihak menyusun mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan kaum lemah (mustadh'afin). Sulit rasanya sekarang ini, menemukan penguasa yang “berani lagi berqurban” seperti saat memperebutkan jabatan dalam pilkada atau pemilu. Seakan kebaikan yang dilakukan penguasa hanya diberikan demi mempertahankan atau merebut kekuasaan itu sendiri. Sehingga ketika kekuasaan itu sudah di dapat, maka kebaikan itu berbalik menjadi pemanfaatan atas kelemahan rakyat untuk meraih keuntungan pribadi. Sementara kepentingan rakyat, hanya menjadi masa lalu, ketika suaranya masih dibutuhkan. wallahu 'alam bi al-shawab.
Untuk itulah penting kiranya menempatkan semua kegiatan ibadah keagamaan seperti haji dan qurban, kaitannya dengan pemberdayaan sosial dan ekonomi rakyat banyak. Dalam hal ini mari kita bertanya: “Apa pengaruh ibadah haji dan qurban yang kita lakukan bagi pemberdayaan kaum miskin (mustadh'afin)?”
“QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).
Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).
Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh'afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.
Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh'afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.
Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting "bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan". Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.

Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.
Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Wallahu'alam bi al-shawab.[]
Makna Ibadah Qurban Bagi Pemberdayaan Mustadh'afin
Sekarang ini, orang sering dengan mudah menguras isi koceknya untuk diri, partai, dan kelompok kepetingannya. Tetapi, betapa sulit menemukan orang yang bersedia melakukan hal serupa bagi kepentingan rakyat banyak yang tidak ada kaitan langsung dengan kemenangan pencalonan kepala daerah, kepentingan partainya dan atau kepentingan kelompoknya.
Ini bisa kita lihat dengan mudah pada saat pemilu sebagaimana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang memilih gubernur dan bupati atau wali kota. Meski sulit dibuktikan secara hukum, masyarakat sebanarnya paham betul berapa uang yang disiapkan untuk kerja tim sukses seorang calon kepala daerah. Sementara itu, jarang sekali –untuk tidak menyatakannya tidak ada- penguasa (birokrat atau politisi) yang berani melakukan hal serupa dengan membiayai pendidikan anak-anak miskin, yatim-piatu dan korban “bencana alam” dan korban penggusuran.

Dalam kenyataan sehari-hari, jarang ditemukan penguasa atau pejabat (birokrat di puncak kekuasaan, DPR/DPD/DPRD) yang berpihak menyusun mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan kaum lemah (mustadh'afin). Sulit rasanya sekarang ini, menemukan penguasa yang “berani lagi berqurban” seperti saat memperebutkan jabatan dalam pilkada atau pemilu. Seakan kebaikan yang dilakukan penguasa hanya diberikan demi mempertahankan atau merebut kekuasaan itu sendiri. Sehingga ketika kekuasaan itu sudah di dapat, maka kebaikan itu berbalik menjadi pemanfaatan atas kelemahan rakyat untuk meraih keuntungan pribadi. Sementara kepentingan rakyat, hanya menjadi masa lalu, ketika suaranya masih dibutuhkan. wallahu 'alam bi al-shawab.
Untuk itulah penting kiranya menempatkan semua kegiatan ibadah keagamaan seperti haji dan qurban, kaitannya dengan pemberdayaan sosial dan ekonomi rakyat banyak. Dalam hal ini mari kita bertanya: “Apa pengaruh ibadah haji dan qurban yang kita lakukan bagi pemberdayaan kaum miskin (mustadh'afin)?”
“QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).
Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).
Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh'afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.
Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh'afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.
Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting "bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan". Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.

Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.
Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Wallahu'alam bi al-shawab.[]
WAHHHHHHH DOAKAN SUKSES YA BESOK ,SAMPAI KETEMU DI POSTINGAN BERIKUTNYA SALAM .....
WAHHHHHHH DOAKAN SUKSES YA BESOK ,SAMPAI KETEMU DI POSTINGAN BERIKUTNYA SALAM .....
Seabagai Program kegiatan ektra Kurikuler Maddin Salafiyah Karangpakel dalam rangka ajang penggalian bakat,mental santri setiap 1 bulan sekali di adakan kegiatan Muhadloroh yang berbentuk lomba antar santri dalam menyerap pelajaran hafalan dan pidato.
Seabagai Program kegiatan ektra Kurikuler Maddin Salafiyah Karangpakel dalam rangka ajang penggalian bakat,mental santri setiap 1 bulan sekali di adakan kegiatan Muhadloroh yang berbentuk lomba antar santri dalam menyerap pelajaran hafalan dan pidato.
Pada malam ahad tanggal 08 oktober 2011,telah diadakan acara pembukaan seluruh kegiatan ektra kurikuler di Maddin salafiyah karangpakel th pelajaran 2011-2012.
Pada acara terebut melibatkan beberapa komponen masyarakat yang meliputi santri putra/putri seluruh asatidz wal asaatidzat tokoh masyarakat dan seluruh warga mayarakat tidak ketinggalan para remaja masjid.
Dengan secara resmi dibukanya seluruh keggiatan yang dibuka secara simboles oleh kepala Madrasah Diniyah bapak Nursalim,S.Pd.I berartiseluruh program kegiatan dan jadwalnya mulai berlaku sejak dibukanya kegiatan pada aacara tersebut.
Dalam acara tersebut juga disampaikan beberapa sambutan diantaranya dari ketua yayasan bapak zubaidi,sespuh masyarakat karangpakel KH.Muhnasir serta tokoh MMd sekaligus ketua MMD bapak Nurhadi,S.Ag. Yang mana inti sambutannya adlah mengajak para wali santri dan masyarakat karangpakel secara umum untuk membimbing dan memantau pendidikan anak-anaknya agar dimasa yang masih kecil,muda diarahkan untuk belajar secara giat,rajin daan penuh semangat dimaddin karangpakel saat ini masih eksisyang didukung tenaga pendidik yang memadai di bidangnya. serta masyarakat juga diharap ikut peran serta akan kemajuan dan kelestarian pendidikan ini kedepan. Pada acara tersebut juga disampaikan sambuatan dari kepala madrasah dan koordinator kegiatan ustadz Chairul arafik S.Pd,dalam sambutannya menyampaiakan beberapa orogram kegiataan selama setahun ini,diantaranya adalah dzibaiyyah wal khithobiyah,PHBI,pengajian weton,Kultum ba'da Asyar,Jami'atul Quro' ziaroh dan lainya.Semoga dengan adanya pembukaan kegiatan ini akan memotivasi santri-santri untuk giat lagi dalam belajar dan bisa terealisasi semua program kegiatan yg telah di programkan .suksesssssss maddin tercinta

Pada malam ahad tanggal 08 oktober 2011,telah diadakan acara pembukaan seluruh kegiatan ektra kurikuler di Maddin salafiyah karangpakel th pelajaran 2011-2012.
Pada acara terebut melibatkan beberapa komponen masyarakat yang meliputi santri putra/putri seluruh asatidz wal asaatidzat tokoh masyarakat dan seluruh warga mayarakat tidak ketinggalan para remaja masjid.
Dengan secara resmi dibukanya seluruh keggiatan yang dibuka secara simboles oleh kepala Madrasah Diniyah bapak Nursalim,S.Pd.I berartiseluruh program kegiatan dan jadwalnya mulai berlaku sejak dibukanya kegiatan pada aacara tersebut.
Dalam acara tersebut juga disampaikan beberapa sambutan diantaranya dari ketua yayasan bapak zubaidi,sespuh masyarakat karangpakel KH.Muhnasir serta tokoh MMd sekaligus ketua MMD bapak Nurhadi,S.Ag. Yang mana inti sambutannya adlah mengajak para wali santri dan masyarakat karangpakel secara umum untuk membimbing dan memantau pendidikan anak-anaknya agar dimasa yang masih kecil,muda diarahkan untuk belajar secara giat,rajin daan penuh semangat dimaddin karangpakel saat ini masih eksisyang didukung tenaga pendidik yang memadai di bidangnya. serta masyarakat juga diharap ikut peran serta akan kemajuan dan kelestarian pendidikan ini kedepan. Pada acara tersebut juga disampaikan sambuatan dari kepala madrasah dan koordinator kegiatan ustadz Chairul arafik S.Pd,dalam sambutannya menyampaiakan beberapa orogram kegiataan selama setahun ini,diantaranya adalah dzibaiyyah wal khithobiyah,PHBI,pengajian weton,Kultum ba'da Asyar,Jami'atul Quro' ziaroh dan lainya.Semoga dengan adanya pembukaan kegiatan ini akan memotivasi santri-santri untuk giat lagi dalam belajar dan bisa terealisasi semua program kegiatan yg telah di programkan .suksesssssss maddin tercinta

Hukum Onani atau Masturbasi
Tanya:
Apa hkm onani bg bujang/blm mampu menikah utk melampiaskan nafsu sahwat.
Jawab:
Berikut jawaban dari tiga ulama besar di zaman ini:
1. Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan -hafizhahullah-
Tanya : “Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal.
Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”
Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 - 6]
Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. (HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.
Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]
2. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”
Jawab:
“Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Mu'minun: 5 - 7]
Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.
Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.” (HR. Al-Bukhari: 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]
Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.
Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.
[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]
3. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Tanya:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”
Jawab:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun: 5 – 7]
Orang yang melampuai batas artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.
Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.
Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.
Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.
Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”
Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”
Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama: Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua: Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.
Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.
Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya, “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari terjemah Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)
Sumber: Salafy.or.id offline Judul: Fatwa ulama seputar onani atau masturbasi dengan sedikit perubahan
Hukum Onani atau Masturbasi
Tanya:
Apa hkm onani bg bujang/blm mampu menikah utk melampiaskan nafsu sahwat.
Jawab:
Berikut jawaban dari tiga ulama besar di zaman ini:
1. Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan -hafizhahullah-
Tanya : “Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal.
Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”
Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 - 6]
Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. (HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.
Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]
2. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”
Jawab:
“Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Mu'minun: 5 - 7]
Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.
Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.” (HR. Al-Bukhari: 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]
Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.
Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.
[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]
3. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Tanya:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”
Jawab:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun: 5 – 7]
Orang yang melampuai batas artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.
Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.
Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.
Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.
Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”
Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”
Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama: Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua: Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.
Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.
Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya, “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
(Dikutip dari terjemah Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)
Sumber: Salafy.or.id offline Judul: Fatwa ulama seputar onani atau masturbasi dengan sedikit perubahan
Hukum Oral Sex
Tanya:
Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apakah hukumnya jika suami atau istri terminum sperma salah satunya?
ailia
barlen.alindragiri@gmail.com
Jawab:
Kalau memang hal itu terjadi secara tidak disengaja, maka insya Allah tidak mengapa. “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau tersalah (tidak sengaja).”
Kalau hal itu disengaja dan terjadinya melalui oral sex (istri menghisap penis suaminya), maka berikut jawabannya yang kami kutip dari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=276.
Apa hukum oral seks?
Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,
“Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut –sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”
Dan dalam kitab Masa`il Nisa’iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza’ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:
“Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?”
Beliau menjawab:
“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim –dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”
Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,
“Apa hukum oral seks’?” Beliau menjawab:
“Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam.”
Hukum Oral Sex
Tanya:
Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apakah hukumnya jika suami atau istri terminum sperma salah satunya?
ailia
barlen.alindragiri@gmail.com
Jawab:
Kalau memang hal itu terjadi secara tidak disengaja, maka insya Allah tidak mengapa. “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau tersalah (tidak sengaja).”
Kalau hal itu disengaja dan terjadinya melalui oral sex (istri menghisap penis suaminya), maka berikut jawabannya yang kami kutip dari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=276.
Apa hukum oral seks?
Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,
“Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut –sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”
Dan dalam kitab Masa`il Nisa’iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza’ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:
“Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?”
Beliau menjawab:
“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim –dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”
Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,
“Apa hukum oral seks’?” Beliau menjawab:
“Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam.”
ANGAN MENYIKSA DIRI
Allah s.w.t. menciptakan dunia seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, oleh itu hendaklah manusia memanfaatkannya.
Sahabat Anas menceritakan bahawa satu hari Rasulullah s.a.w melihat seorang yang dipapah oleh kedua orang anaknya menunaikan haji dengan berjalan kaki. Apabila melihat keadan itu maka Baginda s.a.w. bertanya, "Mengapa dengan orang ini?" Dua anak itu berkata, "Dia bernazar hendak menunaikan hai dengan berjalan kaki." Rasulullah s.a.w berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memerlukan orang yang menyiksakan dirinya." Ketika itu juga Rasulullah memerintahkan kepada orang itu agar naik kenderaan untuk menunaikan haji.
Dalam satu peristiwa lain, seseorang menziarahi tuan gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan kaki beberapa batu ke rumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih. Setiba di rumah gurunya itu, tuan guru itu bertanya, "Kamu datang dengan apa?" Anak murid itu berkata, "Saya berjalan kaki." Apabila tuan guru itu mendengar jawapan anak muridnya itu dia berkata : "Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keldai agar kamu mengenderainya."
ANGAN MENYIKSA DIRI
Allah s.w.t. menciptakan dunia seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, oleh itu hendaklah manusia memanfaatkannya.
Sahabat Anas menceritakan bahawa satu hari Rasulullah s.a.w melihat seorang yang dipapah oleh kedua orang anaknya menunaikan haji dengan berjalan kaki. Apabila melihat keadan itu maka Baginda s.a.w. bertanya, "Mengapa dengan orang ini?" Dua anak itu berkata, "Dia bernazar hendak menunaikan hai dengan berjalan kaki." Rasulullah s.a.w berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memerlukan orang yang menyiksakan dirinya." Ketika itu juga Rasulullah memerintahkan kepada orang itu agar naik kenderaan untuk menunaikan haji.
Dalam satu peristiwa lain, seseorang menziarahi tuan gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan kaki beberapa batu ke rumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih. Setiba di rumah gurunya itu, tuan guru itu bertanya, "Kamu datang dengan apa?" Anak murid itu berkata, "Saya berjalan kaki." Apabila tuan guru itu mendengar jawapan anak muridnya itu dia berkata : "Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keldai agar kamu mengenderainya."
UNTA MENJADI HAKIM
Pada zaman Rasulullah s.a.w., ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Rasulullah s.a.w. lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Rasulullah s.a.w., "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."
Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?" Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta." Akhirnya Rasulullah s.a.w. berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar." Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."
Rasulullah s.a.w bersabda, "Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah s.w.t. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah s.w.t. melalui seekor unta yang menghakimkannya.
UNTA MENJADI HAKIM
Pada zaman Rasulullah s.a.w., ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Rasulullah s.a.w. lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Rasulullah s.a.w., "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."
Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?" Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta." Akhirnya Rasulullah s.a.w. berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar." Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."
Rasulullah s.a.w bersabda, "Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah s.w.t. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah s.w.t. melalui seekor unta yang menghakimkannya.
LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini?" Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Rasulullah s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?" Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah s.w.t., percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah s.w.t. yang baik mahupun yang buruk." Selanjutnya tanya Rasulullah s.a.w "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?" Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Rasulullah s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ?
Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan.
Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati.
Janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,
Berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini?" Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Rasulullah s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?" Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah s.w.t., percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah s.w.t. yang baik mahupun yang buruk." Selanjutnya tanya Rasulullah s.a.w "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?" Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Rasulullah s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ?
Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan.
Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati.
Janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,
Berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
RAHASIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG
Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-
1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah s.w.t. ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.
Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.
RAHASIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG
Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-
1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah s.w.t. ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.
Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.
Pada tanggal 17 September 2011,bertempat diserambi masjid 'ibadurrohman Karangpakel sumberagung Klego Boyolali diadakan perkumpulan/ijtima, pembukaan pembelajaran tahun pelajaran 1432-1433 H Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel.
Pada Acara tersebut juga diadakan Halal Bihalal antara sesama dewan asaatidz/dzah juga dengan para santri.sekaligus acara Ta'aruf dengan para asatidz baru yang didatangkan dari Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan,untuk ikut membantu sebagai tenaga pengajar di Madrasah diniyah karangpakel. Dimaksudkan dengan dihadirkannya tenaga dari pesantren tersebut akan lebih meningkatkan mutu santri dan terlaksanannya proses pembelajarn di lembaga Non formal lebih kondusif dan dapat tercapainya target secara maksimal.
Pada tanggal 17 September 2011,bertempat diserambi masjid 'ibadurrohman Karangpakel sumberagung Klego Boyolali diadakan perkumpulan/ijtima, pembukaan pembelajaran tahun pelajaran 1432-1433 H Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel.
Pada Acara tersebut juga diadakan Halal Bihalal antara sesama dewan asaatidz/dzah juga dengan para santri.sekaligus acara Ta'aruf dengan para asatidz baru yang didatangkan dari Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan,untuk ikut membantu sebagai tenaga pengajar di Madrasah diniyah karangpakel. Dimaksudkan dengan dihadirkannya tenaga dari pesantren tersebut akan lebih meningkatkan mutu santri dan terlaksanannya proses pembelajarn di lembaga Non formal lebih kondusif dan dapat tercapainya target secara maksimal.
Silaturrahim
Saling mengunjungi kepada sanak kerabat adalah pemandangan yang sering kita jumpai pada saat lebaran. Di sana-sini banyak digelar acara syawalan atau halal bihalal dengan maksud untuk mempertemukan seluruh anggota keluarga, masyarakat ataupun instansi dan lembaga tertentu. Tentunya syawalan dimaksudkan sebagai ajang untuk saling memaafkan satu sama lain.
Namun dibalik maksud syawalan yang sering digelar masyarakat ada satu makna yang dalam yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu silaturrahim. Karena alasan silaturrahim pula maka muncul fenomena mudik lebaran di Indonesia. Para pemudik rela berdesak-desakan dalam transportasi yang membawa mereka tanpa memperdulikan bahayanya. Begitu pula mereka yang mudik dengan kendaraan pribadi, baik mobil ataukah sepeda motor.
Di samping kemacetan yang kerap dialami, pemudik bersepeda motor pun beresiko dengan kelelahan fisik dan kecelakaan. Apalagi yang membawa serta bayi dalam sepeda motornya. Semua itu dilakukan hanya untuk menjalin silaturrahim kepada orangtua, sanak keluarga maupun sekedar menengok kampung halamannya.
Kalau diamati lebih dalam lagi, syawalan memang bukan sekedar acara saling memaafkan dan silaturrahim saja. Walaupun dalam acara tersebut tujuan utamanya adalah untuk saling memaafkan. Dari sisi batiniah, acara syawalan merupakan wujud kebersamaan dalam satu hati. Padahal kita tahu bahwa status sosial masyarakat berbeda-beda, tapi semua itu tidak nampak. Yang nampak sesungguhnya adalah hati yang lapang dan luas, memberi maaf dalam kebersamaan.
Perbedaan yang selama ini mewarnai kehidupan dalam suatu masyarakat lebur menjadi satu. Tak ada iri, tak ada dengki, tak ada sikap angkuh dan sombong. Yang ada hanyalah sikap terbuka, penuh senyuman dan kegembiraan yang tercermin dalam setiap pribadi. Walaupun ada juga yang masih menjadi ganjalan, tetapi hal itu hanya sebagian kecil. Toh, mereka juga tetap memaksakan diri dengan senyum yang mengembang.
Idul fitri tahun ini, mengalami perbedaan lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Sebagian berlebaran pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan sebagian lagi hari Rabu, 31 Agustus 2011. Perbedaannya jelas sekali, namun bukan merupakan satu hal yang prinsip yang dapat menjadikan suatu perselisihan apalagi perpecahan. Nyatanya semua berjalan dengan lancar dan terkendali sesuai dengan dasar keyakinan masing-masing. Kita tetap sama-sama merayakan idul fitri pada tanggal 1 syawal.
Ada hikmah penting yang bisa kita petik dari silaturrahim, antara lain bahwa silaturrahim memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan mempererat hubungan persaudaraan sesama muslim. Memutuskan silaturrahim berakibat tidak diterima shalatnya seseorang selama 40 hari. Jadi merupakan sebuah manfaat yang sangat besar menjalin silaturrahim saat lebaran Idul Fitri. Meski hanya melalui telepon, SMS atau sebuah kartu ucapan, semua itu menunjukkan sebuah niatan hati yang baik dan positif.
Meski silaturrahim sendiri tak harus dilakukan ketika lebaran tiba, tetapi hari raya Idul Fitri merupakan momen yang tepat untuk mempererat dan menyambung tali silaturrahim. Tak ada yang menyangkal kalau rejeki memang bertambah pada saat itu. Dalam kunjungan ke sanak saudara atau tetangga bahkan siapa pun kenalan kita, minimal akan memperoleh sajian minuman atau kue, bahkan makan besar pun tak jarang disuguhkan untuk tamu yang datang. Pihak tuan rumah tak pernah mengeluh kalau kedatangan tamu dan dengan senang hati menjamu setiap yang datang.
Khususnya bagi anak-anak kecil, biasanya mendapat amplop atau angpao, atau yang sering disebut orang dengan zakat. Ini merupakan perwujudan kasih sayang dari yang tua kepada anak-anak. Nilainya memang berbeda, tergantung yang memberi sehingga semakin banyak yang dikunjungi maka semakin banyak pula zakat yang diterima. Semua senang, yang memberi senang dan yang diberi juga senang. Orang tua si anak pun turut senang karena anaknya mendapat uang dalam jumlah yang cukup lumayan.
Silaturrahim di hari lebaran memang bukan sekedar saling mengunjungi dan memaafkan semata. Ada banyak makna yang bisa kita temukan jika digali lebih dalam lagi. Dan tentunya kita tidak ingin di hari lebaran yang suci ini dikotori oleh setitik noda hanya karena sebuah perbedaan Idul Fitri yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Di luar itu masih banyak saudara-saudara kita yang katanya beragama Islam tetapi tidak menjalankan shalat maupun puasa Ramadhan, toh tidak pernah dipermasalahkan. Padahal mereka inilah yang seharusnya menjadi sasaran dakwah para ustadz, kyai dan para ulama dan kita semua untuk membenahi sisi keimanan mereka.
Silaturrahim
Saling mengunjungi kepada sanak kerabat adalah pemandangan yang sering kita jumpai pada saat lebaran. Di sana-sini banyak digelar acara syawalan atau halal bihalal dengan maksud untuk mempertemukan seluruh anggota keluarga, masyarakat ataupun instansi dan lembaga tertentu. Tentunya syawalan dimaksudkan sebagai ajang untuk saling memaafkan satu sama lain.
Namun dibalik maksud syawalan yang sering digelar masyarakat ada satu makna yang dalam yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu silaturrahim. Karena alasan silaturrahim pula maka muncul fenomena mudik lebaran di Indonesia. Para pemudik rela berdesak-desakan dalam transportasi yang membawa mereka tanpa memperdulikan bahayanya. Begitu pula mereka yang mudik dengan kendaraan pribadi, baik mobil ataukah sepeda motor.
Di samping kemacetan yang kerap dialami, pemudik bersepeda motor pun beresiko dengan kelelahan fisik dan kecelakaan. Apalagi yang membawa serta bayi dalam sepeda motornya. Semua itu dilakukan hanya untuk menjalin silaturrahim kepada orangtua, sanak keluarga maupun sekedar menengok kampung halamannya.
Kalau diamati lebih dalam lagi, syawalan memang bukan sekedar acara saling memaafkan dan silaturrahim saja. Walaupun dalam acara tersebut tujuan utamanya adalah untuk saling memaafkan. Dari sisi batiniah, acara syawalan merupakan wujud kebersamaan dalam satu hati. Padahal kita tahu bahwa status sosial masyarakat berbeda-beda, tapi semua itu tidak nampak. Yang nampak sesungguhnya adalah hati yang lapang dan luas, memberi maaf dalam kebersamaan.
Perbedaan yang selama ini mewarnai kehidupan dalam suatu masyarakat lebur menjadi satu. Tak ada iri, tak ada dengki, tak ada sikap angkuh dan sombong. Yang ada hanyalah sikap terbuka, penuh senyuman dan kegembiraan yang tercermin dalam setiap pribadi. Walaupun ada juga yang masih menjadi ganjalan, tetapi hal itu hanya sebagian kecil. Toh, mereka juga tetap memaksakan diri dengan senyum yang mengembang.
Idul fitri tahun ini, mengalami perbedaan lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Sebagian berlebaran pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan sebagian lagi hari Rabu, 31 Agustus 2011. Perbedaannya jelas sekali, namun bukan merupakan satu hal yang prinsip yang dapat menjadikan suatu perselisihan apalagi perpecahan. Nyatanya semua berjalan dengan lancar dan terkendali sesuai dengan dasar keyakinan masing-masing. Kita tetap sama-sama merayakan idul fitri pada tanggal 1 syawal.
Ada hikmah penting yang bisa kita petik dari silaturrahim, antara lain bahwa silaturrahim memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan mempererat hubungan persaudaraan sesama muslim. Memutuskan silaturrahim berakibat tidak diterima shalatnya seseorang selama 40 hari. Jadi merupakan sebuah manfaat yang sangat besar menjalin silaturrahim saat lebaran Idul Fitri. Meski hanya melalui telepon, SMS atau sebuah kartu ucapan, semua itu menunjukkan sebuah niatan hati yang baik dan positif.
Meski silaturrahim sendiri tak harus dilakukan ketika lebaran tiba, tetapi hari raya Idul Fitri merupakan momen yang tepat untuk mempererat dan menyambung tali silaturrahim. Tak ada yang menyangkal kalau rejeki memang bertambah pada saat itu. Dalam kunjungan ke sanak saudara atau tetangga bahkan siapa pun kenalan kita, minimal akan memperoleh sajian minuman atau kue, bahkan makan besar pun tak jarang disuguhkan untuk tamu yang datang. Pihak tuan rumah tak pernah mengeluh kalau kedatangan tamu dan dengan senang hati menjamu setiap yang datang.
Khususnya bagi anak-anak kecil, biasanya mendapat amplop atau angpao, atau yang sering disebut orang dengan zakat. Ini merupakan perwujudan kasih sayang dari yang tua kepada anak-anak. Nilainya memang berbeda, tergantung yang memberi sehingga semakin banyak yang dikunjungi maka semakin banyak pula zakat yang diterima. Semua senang, yang memberi senang dan yang diberi juga senang. Orang tua si anak pun turut senang karena anaknya mendapat uang dalam jumlah yang cukup lumayan.
Silaturrahim di hari lebaran memang bukan sekedar saling mengunjungi dan memaafkan semata. Ada banyak makna yang bisa kita temukan jika digali lebih dalam lagi. Dan tentunya kita tidak ingin di hari lebaran yang suci ini dikotori oleh setitik noda hanya karena sebuah perbedaan Idul Fitri yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Di luar itu masih banyak saudara-saudara kita yang katanya beragama Islam tetapi tidak menjalankan shalat maupun puasa Ramadhan, toh tidak pernah dipermasalahkan. Padahal mereka inilah yang seharusnya menjadi sasaran dakwah para ustadz, kyai dan para ulama dan kita semua untuk membenahi sisi keimanan mereka.
Dalam rangka mempererat jalinan silaturohmi antar remaja orang tua dan masyarakat REMAS 'Ibadurrohman karangpakel Klego boyolali pada hari ke 3 bulan syawal lalu mengadakan acara Halal Bihalal dalam bentuk acara pengajian.Tujuannya untuk memepererat silturohmi antar remaja dan memberikan sesuatu yg bermanfaat kepada masyarakat dengan adanya Tausyiyah yang disampaikan pembicara
Dalam acara tersebut dihadiri -+ 1000 hadirin wal hadlirot sehingga panitia kerepotan harus menyediakan tempat secara mendadak.alhmadulilah acara berjalan dengan lancar aman dan tertib
Dalam rangka mempererat jalinan silaturohmi antar remaja orang tua dan masyarakat REMAS 'Ibadurrohman karangpakel Klego boyolali pada hari ke 3 bulan syawal lalu mengadakan acara Halal Bihalal dalam bentuk acara pengajian.Tujuannya untuk memepererat silturohmi antar remaja dan memberikan sesuatu yg bermanfaat kepada masyarakat dengan adanya Tausyiyah yang disampaikan pembicara
Dalam acara tersebut dihadiri -+ 1000 hadirin wal hadlirot sehingga panitia kerepotan harus menyediakan tempat secara mendadak.alhmadulilah acara berjalan dengan lancar aman dan tertib