Latest Posts

Minggu, 23 Oktober 2011





KEGIATAN KEMASYARAKATAN HORMAT CALON HAJI 2011 KARANGPAKEL BPK.NURHADI S.Ag SEKALIAN IBU





Seabagai Program kegiatan ektra Kurikuler Maddin Salafiyah Karangpakel dalam rangka ajang penggalian bakat,mental santri setiap 1 bulan sekali di adakan kegiatan Muhadloroh yang berbentuk lomba antar santri dalam menyerap pelajaran hafalan dan pidato.






KEGIATAN MUHADLOROH MADDINKU

Seabagai Program kegiatan ektra Kurikuler Maddin Salafiyah Karangpakel dalam rangka ajang penggalian bakat,mental santri setiap 1 bulan sekali di adakan kegiatan Muhadloroh yang berbentuk lomba antar santri dalam menyerap pelajaran hafalan dan pidato.






Sabtu, 08 Oktober 2011

Pada malam ahad tanggal 08 oktober 2011,telah diadakan acara pembukaan seluruh kegiatan ektra kurikuler di Maddin salafiyah karangpakel th pelajaran 2011-2012.


Pada acara terebut melibatkan beberapa komponen masyarakat yang meliputi santri putra/putri seluruh asatidz wal asaatidzat tokoh masyarakat dan seluruh warga mayarakat tidak ketinggalan para remaja masjid.
Dengan secara resmi dibukanya seluruh keggiatan yang dibuka secara simboles oleh kepala Madrasah Diniyah bapak Nursalim,S.Pd.I berartiseluruh program kegiatan dan jadwalnya mulai berlaku sejak dibukanya kegiatan pada aacara tersebut.

Dalam acara tersebut juga disampaikan beberapa sambutan diantaranya dari ketua yayasan bapak zubaidi,sespuh masyarakat karangpakel KH.Muhnasir serta tokoh MMd sekaligus ketua MMD bapak Nurhadi,S.Ag. Yang mana inti sambutannya adlah mengajak para wali santri dan masyarakat karangpakel secara umum untuk membimbing dan memantau pendidikan anak-anaknya agar dimasa yang masih kecil,muda diarahkan untuk belajar secara giat,rajin daan penuh semangat dimaddin karangpakel saat ini masih eksisyang didukung tenaga pendidik yang memadai di bidangnya. serta masyarakat juga diharap ikut peran serta akan kemajuan dan kelestarian pendidikan ini kedepan. Pada acara tersebut juga disampaikan sambuatan dari kepala madrasah dan koordinator kegiatan ustadz Chairul arafik S.Pd,dalam sambutannya menyampaiakan beberapa orogram kegiataan selama setahun ini,diantaranya adalah dzibaiyyah wal khithobiyah,PHBI,pengajian weton,Kultum ba'da Asyar,Jami'atul Quro' ziaroh dan lainya.Semoga dengan adanya pembukaan kegiatan ini akan memotivasi santri-santri untuk giat lagi dalam belajar dan bisa terealisasi semua program kegiatan yg telah di programkan .suksesssssss maddin tercinta

PEMBUKAAN SELURUH KEGIATAN MADDIN KARANGPAKEL 211/2012

Pada malam ahad tanggal 08 oktober 2011,telah diadakan acara pembukaan seluruh kegiatan ektra kurikuler di Maddin salafiyah karangpakel th pelajaran 2011-2012.


Pada acara terebut melibatkan beberapa komponen masyarakat yang meliputi santri putra/putri seluruh asatidz wal asaatidzat tokoh masyarakat dan seluruh warga mayarakat tidak ketinggalan para remaja masjid.
Dengan secara resmi dibukanya seluruh keggiatan yang dibuka secara simboles oleh kepala Madrasah Diniyah bapak Nursalim,S.Pd.I berartiseluruh program kegiatan dan jadwalnya mulai berlaku sejak dibukanya kegiatan pada aacara tersebut.

Dalam acara tersebut juga disampaikan beberapa sambutan diantaranya dari ketua yayasan bapak zubaidi,sespuh masyarakat karangpakel KH.Muhnasir serta tokoh MMd sekaligus ketua MMD bapak Nurhadi,S.Ag. Yang mana inti sambutannya adlah mengajak para wali santri dan masyarakat karangpakel secara umum untuk membimbing dan memantau pendidikan anak-anaknya agar dimasa yang masih kecil,muda diarahkan untuk belajar secara giat,rajin daan penuh semangat dimaddin karangpakel saat ini masih eksisyang didukung tenaga pendidik yang memadai di bidangnya. serta masyarakat juga diharap ikut peran serta akan kemajuan dan kelestarian pendidikan ini kedepan. Pada acara tersebut juga disampaikan sambuatan dari kepala madrasah dan koordinator kegiatan ustadz Chairul arafik S.Pd,dalam sambutannya menyampaiakan beberapa orogram kegiataan selama setahun ini,diantaranya adalah dzibaiyyah wal khithobiyah,PHBI,pengajian weton,Kultum ba'da Asyar,Jami'atul Quro' ziaroh dan lainya.Semoga dengan adanya pembukaan kegiatan ini akan memotivasi santri-santri untuk giat lagi dalam belajar dan bisa terealisasi semua program kegiatan yg telah di programkan .suksesssssss maddin tercinta

Selasa, 04 Oktober 2011

Hukum Onani atau Masturbasi

Tanya:
Apa hkm onani bg bujang/blm mampu menikah utk melampiaskan nafsu sahwat.


Jawab:
Berikut jawaban dari tiga ulama besar di zaman ini:

1. Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan -hafizhahullah-
Tanya : “Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal.
Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”

Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 - 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. (HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.

Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]

2. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”

Jawab:
“Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Mu'minun: 5 - 7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.” (HR. Al-Bukhari: 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.
Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]

3. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Tanya:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”

Jawab:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun: 5 – 7]
Orang yang melampuai batas artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”

Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama: Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua: Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya, “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

(Dikutip dari terjemah Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)

Sumber: Salafy.or.id offline Judul: Fatwa ulama seputar onani atau masturbasi dengan sedikit perubahan

FIQIH ISLAM 2

Hukum Onani atau Masturbasi

Tanya:
Apa hkm onani bg bujang/blm mampu menikah utk melampiaskan nafsu sahwat.


Jawab:
Berikut jawaban dari tiga ulama besar di zaman ini:

1. Fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan -hafizhahullah-
Tanya : “Saya seorang pelajar muslim (selama ini) saya terjerat oleh kabiasaan onani/masturbasi. Saya diombang-ambingkan oleh dorongan hawa nafsu sampai berlebih-lebihan melakukannya. Akibatnya saya meninggalkan shalat dalam waktu yang lama. Saat ini, saya berusaha sekuat tenaga (untuk menghentikannya). Hanya saja, saya seringkali gagal.
Terkadang setelah melakukan shalat witir di malam hari, pada saat tidur saya melakukannya. Apakah shalat yang saya kerjakan itu diterima ? Haruskah saya mengqadha shalat ? Lantas, apa hukum onani ? Perlu diketahui, saya melakukan onani biasanya setelah menonton televisi atau video.”

Jawab :
Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu`minun: 5 - 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. (HR. Al-Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengulangi kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan keburukan.

Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.

Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan onani, maka onani itulah yang diharamkan –anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syari’at, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh syirik atau murtad –kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya tetap berdosa. [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan IV 273-274]

2. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-
Tanya :
“Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?”

Jawab:
“Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Dalam Al-Qur’an dinyatakan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Mu'minun: 5 - 7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.” (HR. Al-Bukhari: 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.
Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As ilah muhimmah ajaba ‘alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9, disalin dari buku Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram]

3. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-
Tanya:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”

Jawab:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mu’minun: 5 – 7]
Orang yang melampuai batas artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya.”

Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :
Pertama: Segera menikah bagi yang mampu.
Kedua: Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, beretika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya, “Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmizi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

(Dikutip dari terjemah Fatawa Syaikh Bin Baz, dimuat dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130, disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram)

Sumber: Salafy.or.id offline Judul: Fatwa ulama seputar onani atau masturbasi dengan sedikit perubahan

Hukum Oral Sex

Tanya:
Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apakah hukumnya jika suami atau istri terminum sperma salah satunya?

ailia
barlen.alindragiri@gmail.com

Jawab:
Kalau memang hal itu terjadi secara tidak disengaja, maka insya Allah tidak mengapa. “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau tersalah (tidak sengaja).”
Kalau hal itu disengaja dan terjadinya melalui oral sex (istri menghisap penis suaminya), maka berikut jawabannya yang kami kutip dari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=276.

Apa hukum oral seks?

Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,

“Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut –sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”

Dan dalam kitab Masa`il Nisa’iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza’ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:

“Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?”
Beliau menjawab:

“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim –dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”

Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,

“Apa hukum oral seks’?” Beliau menjawab:

“Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam.”

FIQIH ISLAM

Hukum Oral Sex

Tanya:
Assallamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apakah hukumnya jika suami atau istri terminum sperma salah satunya?

ailia
barlen.alindragiri@gmail.com

Jawab:
Kalau memang hal itu terjadi secara tidak disengaja, maka insya Allah tidak mengapa. “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau tersalah (tidak sengaja).”
Kalau hal itu disengaja dan terjadinya melalui oral sex (istri menghisap penis suaminya), maka berikut jawabannya yang kami kutip dari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=276.

Apa hukum oral seks?

Jawab:
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah menjawab sebagai berikut,

“Adapun isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia (kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu) masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan penyakit baginya.
Dan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah telah berfatwa tentang haramnya hal tersebut –sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”

Dan dalam kitab Masa`il Nisa’iyyah Mukhtarah Min Al-`Allamah Al-Albany karya Ummu Ayyub Nurah bintu Hasan Ghawi hal. 197 (cet. Majalisul Huda AI¬Jaza’ir), Muhadits dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany rahimahullah ditanya sebagai berikut:

“Apakah boleh seorang perempuan mencumbu batang kemaluan (penis) suaminya dengan mulutnya, dan seorang lelaki sebaliknya?”
Beliau menjawab:

“Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing. Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasul melarang untuk tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud) seperti turunnya onta, dan menoleh seperti
tolehan srigala dan mematuk seperti patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa nabi Shallallahu `alahi wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah dlketahui kejelekan tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim –dan keadaannya seperti ini- merasa tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”

Dan salah seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh AI-`Allamah `Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman AI-Jabiry hafizhahullah dalam sebuah rekaman, beliau ditanya sebagai berikut,

“Apa hukum oral seks’?” Beliau menjawab:

“Ini adalah haram, karena is termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at, akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak. Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam.”

Minggu, 02 Oktober 2011

ANGAN MENYIKSA DIRI

Allah s.w.t. menciptakan dunia seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, oleh itu hendaklah manusia memanfaatkannya.
Sahabat Anas menceritakan bahawa satu hari Rasulullah s.a.w melihat seorang yang dipapah oleh kedua orang anaknya menunaikan haji dengan berjalan kaki. Apabila melihat keadan itu maka Baginda s.a.w. bertanya, "Mengapa dengan orang ini?" Dua anak itu berkata, "Dia bernazar hendak menunaikan hai dengan berjalan kaki." Rasulullah s.a.w berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memerlukan orang yang menyiksakan dirinya." Ketika itu juga Rasulullah memerintahkan kepada orang itu agar naik kenderaan untuk menunaikan haji.

Dalam satu peristiwa lain, seseorang menziarahi tuan gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan kaki beberapa batu ke rumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih. Setiba di rumah gurunya itu, tuan guru itu bertanya, "Kamu datang dengan apa?" Anak murid itu berkata, "Saya berjalan kaki." Apabila tuan guru itu mendengar jawapan anak muridnya itu dia berkata : "Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keldai agar kamu mengenderainya."

KISAH TELADAN

ANGAN MENYIKSA DIRI

Allah s.w.t. menciptakan dunia seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, oleh itu hendaklah manusia memanfaatkannya.
Sahabat Anas menceritakan bahawa satu hari Rasulullah s.a.w melihat seorang yang dipapah oleh kedua orang anaknya menunaikan haji dengan berjalan kaki. Apabila melihat keadan itu maka Baginda s.a.w. bertanya, "Mengapa dengan orang ini?" Dua anak itu berkata, "Dia bernazar hendak menunaikan hai dengan berjalan kaki." Rasulullah s.a.w berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak memerlukan orang yang menyiksakan dirinya." Ketika itu juga Rasulullah memerintahkan kepada orang itu agar naik kenderaan untuk menunaikan haji.

Dalam satu peristiwa lain, seseorang menziarahi tuan gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan kaki beberapa batu ke rumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih. Setiba di rumah gurunya itu, tuan guru itu bertanya, "Kamu datang dengan apa?" Anak murid itu berkata, "Saya berjalan kaki." Apabila tuan guru itu mendengar jawapan anak muridnya itu dia berkata : "Dia telah menciptakan kuda, baghal dan keldai agar kamu mengenderainya."

UNTA MENJADI HAKIM

Pada zaman Rasulullah s.a.w., ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Rasulullah s.a.w. lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Rasulullah s.a.w., "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."

Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?" Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta." Akhirnya Rasulullah s.a.w. berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar." Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."

Rasulullah s.a.w bersabda, "Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah s.w.t. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah s.w.t. melalui seekor unta yang menghakimkannya.

KISAH TELADAN

UNTA MENJADI HAKIM

Pada zaman Rasulullah s.a.w., ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Rasulullah s.a.w. lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Rasulullah s.a.w., "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."

Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?" Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta." Akhirnya Rasulullah s.a.w. berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar." Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."

Rasulullah s.a.w bersabda, "Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah s.w.t. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah s.w.t. melalui seekor unta yang menghakimkannya.

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini?" Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Rasulullah s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?" Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah s.w.t., percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah s.w.t. yang baik mahupun yang buruk." Selanjutnya tanya Rasulullah s.a.w "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?" Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Rasulullah s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ?

Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan.

Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati.

Janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,

Berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini?" Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Rasulullah s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?" Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah s.w.t., percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah s.w.t. yang baik mahupun yang buruk." Selanjutnya tanya Rasulullah s.a.w "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?" Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Rasulullah s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Rasulullah s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ?

Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan.

Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati.

Janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,

Berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

RAHASIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."

Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-

1. Bertaubat

2. Menyesali dosa yang dilakukan

3. Tidak tergila-gilakan dunia

4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')

5. Tinggalkan sifat berbangga

6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu

7. Meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah s.w.t. ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

RAHASIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG

RAHASIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."

Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-

1. Bertaubat

2. Menyesali dosa yang dilakukan

3. Tidak tergila-gilakan dunia

4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')

5. Tinggalkan sifat berbangga

6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu

7. Meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah s.w.t. ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Sabtu, 17 September 2011

Pada tanggal 17 September 2011,bertempat diserambi masjid 'ibadurrohman Karangpakel sumberagung Klego Boyolali diadakan perkumpulan/ijtima, pembukaan pembelajaran tahun pelajaran 1432-1433 H Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel.
Pada Acara tersebut juga diadakan Halal Bihalal antara sesama dewan asaatidz/dzah juga dengan para santri.sekaligus acara Ta'aruf dengan para asatidz baru yang didatangkan dari Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan,untuk ikut membantu sebagai tenaga pengajar di Madrasah diniyah karangpakel. Dimaksudkan dengan dihadirkannya tenaga dari pesantren tersebut akan lebih meningkatkan mutu santri dan terlaksanannya proses pembelajarn di lembaga Non formal lebih kondusif dan dapat tercapainya target secara maksimal.



IJTIMA' TAHUN PELAJARAN BARU MADDIN SALAFIYAH KARANGPAKEL

Pada tanggal 17 September 2011,bertempat diserambi masjid 'ibadurrohman Karangpakel sumberagung Klego Boyolali diadakan perkumpulan/ijtima, pembukaan pembelajaran tahun pelajaran 1432-1433 H Madrasah Diniyah Salafiyah Karangpakel.
Pada Acara tersebut juga diadakan Halal Bihalal antara sesama dewan asaatidz/dzah juga dengan para santri.sekaligus acara Ta'aruf dengan para asatidz baru yang didatangkan dari Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan,untuk ikut membantu sebagai tenaga pengajar di Madrasah diniyah karangpakel. Dimaksudkan dengan dihadirkannya tenaga dari pesantren tersebut akan lebih meningkatkan mutu santri dan terlaksanannya proses pembelajarn di lembaga Non formal lebih kondusif dan dapat tercapainya target secara maksimal.



Jumat, 09 September 2011

Silaturrahim


Saling mengunjungi kepada sanak kerabat adalah pemandangan yang sering kita jumpai pada saat lebaran. Di sana-sini banyak digelar acara syawalan atau halal bihalal dengan maksud untuk mempertemukan seluruh anggota keluarga, masyarakat ataupun instansi dan lembaga tertentu. Tentunya syawalan dimaksudkan sebagai ajang untuk saling memaafkan satu sama lain.

Namun dibalik maksud syawalan yang sering digelar masyarakat ada satu makna yang dalam yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu silaturrahim. Karena alasan silaturrahim pula maka muncul fenomena mudik lebaran di Indonesia. Para pemudik rela berdesak-desakan dalam transportasi yang membawa mereka tanpa memperdulikan bahayanya. Begitu pula mereka yang mudik dengan kendaraan pribadi, baik mobil ataukah sepeda motor.

Di samping kemacetan yang kerap dialami, pemudik bersepeda motor pun beresiko dengan kelelahan fisik dan kecelakaan. Apalagi yang membawa serta bayi dalam sepeda motornya. Semua itu dilakukan hanya untuk menjalin silaturrahim kepada orangtua, sanak keluarga maupun sekedar menengok kampung halamannya.

Kalau diamati lebih dalam lagi, syawalan memang bukan sekedar acara saling memaafkan dan silaturrahim saja. Walaupun dalam acara tersebut tujuan utamanya adalah untuk saling memaafkan. Dari sisi batiniah, acara syawalan merupakan wujud kebersamaan dalam satu hati. Padahal kita tahu bahwa status sosial masyarakat berbeda-beda, tapi semua itu tidak nampak. Yang nampak sesungguhnya adalah hati yang lapang dan luas, memberi maaf dalam kebersamaan.

Perbedaan yang selama ini mewarnai kehidupan dalam suatu masyarakat lebur menjadi satu. Tak ada iri, tak ada dengki, tak ada sikap angkuh dan sombong. Yang ada hanyalah sikap terbuka, penuh senyuman dan kegembiraan yang tercermin dalam setiap pribadi. Walaupun ada juga yang masih menjadi ganjalan, tetapi hal itu hanya sebagian kecil. Toh, mereka juga tetap memaksakan diri dengan senyum yang mengembang.

Idul fitri tahun ini, mengalami perbedaan lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Sebagian berlebaran pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan sebagian lagi hari Rabu, 31 Agustus 2011. Perbedaannya jelas sekali, namun bukan merupakan satu hal yang prinsip yang dapat menjadikan suatu perselisihan apalagi perpecahan. Nyatanya semua berjalan dengan lancar dan terkendali sesuai dengan dasar keyakinan masing-masing. Kita tetap sama-sama merayakan idul fitri pada tanggal 1 syawal.

Ada hikmah penting yang bisa kita petik dari silaturrahim, antara lain bahwa silaturrahim memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan mempererat hubungan persaudaraan sesama muslim. Memutuskan silaturrahim berakibat tidak diterima shalatnya seseorang selama 40 hari. Jadi merupakan sebuah manfaat yang sangat besar menjalin silaturrahim saat lebaran Idul Fitri. Meski hanya melalui telepon, SMS atau sebuah kartu ucapan, semua itu menunjukkan sebuah niatan hati yang baik dan positif.

Meski silaturrahim sendiri tak harus dilakukan ketika lebaran tiba, tetapi hari raya Idul Fitri merupakan momen yang tepat untuk mempererat dan menyambung tali silaturrahim. Tak ada yang menyangkal kalau rejeki memang bertambah pada saat itu. Dalam kunjungan ke sanak saudara atau tetangga bahkan siapa pun kenalan kita, minimal akan memperoleh sajian minuman atau kue, bahkan makan besar pun tak jarang disuguhkan untuk tamu yang datang. Pihak tuan rumah tak pernah mengeluh kalau kedatangan tamu dan dengan senang hati menjamu setiap yang datang.

Khususnya bagi anak-anak kecil, biasanya mendapat amplop atau angpao, atau yang sering disebut orang dengan zakat. Ini merupakan perwujudan kasih sayang dari yang tua kepada anak-anak. Nilainya memang berbeda, tergantung yang memberi sehingga semakin banyak yang dikunjungi maka semakin banyak pula zakat yang diterima. Semua senang, yang memberi senang dan yang diberi juga senang. Orang tua si anak pun turut senang karena anaknya mendapat uang dalam jumlah yang cukup lumayan.

Silaturrahim di hari lebaran memang bukan sekedar saling mengunjungi dan memaafkan semata. Ada banyak makna yang bisa kita temukan jika digali lebih dalam lagi. Dan tentunya kita tidak ingin di hari lebaran yang suci ini dikotori oleh setitik noda hanya karena sebuah perbedaan Idul Fitri yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Di luar itu masih banyak saudara-saudara kita yang katanya beragama Islam tetapi tidak menjalankan shalat maupun puasa Ramadhan, toh tidak pernah dipermasalahkan. Padahal mereka inilah yang seharusnya menjadi sasaran dakwah para ustadz, kyai dan para ulama dan kita semua untuk membenahi sisi keimanan mereka.

SILATUROHIM

Silaturrahim


Saling mengunjungi kepada sanak kerabat adalah pemandangan yang sering kita jumpai pada saat lebaran. Di sana-sini banyak digelar acara syawalan atau halal bihalal dengan maksud untuk mempertemukan seluruh anggota keluarga, masyarakat ataupun instansi dan lembaga tertentu. Tentunya syawalan dimaksudkan sebagai ajang untuk saling memaafkan satu sama lain.

Namun dibalik maksud syawalan yang sering digelar masyarakat ada satu makna yang dalam yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu silaturrahim. Karena alasan silaturrahim pula maka muncul fenomena mudik lebaran di Indonesia. Para pemudik rela berdesak-desakan dalam transportasi yang membawa mereka tanpa memperdulikan bahayanya. Begitu pula mereka yang mudik dengan kendaraan pribadi, baik mobil ataukah sepeda motor.

Di samping kemacetan yang kerap dialami, pemudik bersepeda motor pun beresiko dengan kelelahan fisik dan kecelakaan. Apalagi yang membawa serta bayi dalam sepeda motornya. Semua itu dilakukan hanya untuk menjalin silaturrahim kepada orangtua, sanak keluarga maupun sekedar menengok kampung halamannya.

Kalau diamati lebih dalam lagi, syawalan memang bukan sekedar acara saling memaafkan dan silaturrahim saja. Walaupun dalam acara tersebut tujuan utamanya adalah untuk saling memaafkan. Dari sisi batiniah, acara syawalan merupakan wujud kebersamaan dalam satu hati. Padahal kita tahu bahwa status sosial masyarakat berbeda-beda, tapi semua itu tidak nampak. Yang nampak sesungguhnya adalah hati yang lapang dan luas, memberi maaf dalam kebersamaan.

Perbedaan yang selama ini mewarnai kehidupan dalam suatu masyarakat lebur menjadi satu. Tak ada iri, tak ada dengki, tak ada sikap angkuh dan sombong. Yang ada hanyalah sikap terbuka, penuh senyuman dan kegembiraan yang tercermin dalam setiap pribadi. Walaupun ada juga yang masih menjadi ganjalan, tetapi hal itu hanya sebagian kecil. Toh, mereka juga tetap memaksakan diri dengan senyum yang mengembang.

Idul fitri tahun ini, mengalami perbedaan lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Sebagian berlebaran pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan sebagian lagi hari Rabu, 31 Agustus 2011. Perbedaannya jelas sekali, namun bukan merupakan satu hal yang prinsip yang dapat menjadikan suatu perselisihan apalagi perpecahan. Nyatanya semua berjalan dengan lancar dan terkendali sesuai dengan dasar keyakinan masing-masing. Kita tetap sama-sama merayakan idul fitri pada tanggal 1 syawal.

Ada hikmah penting yang bisa kita petik dari silaturrahim, antara lain bahwa silaturrahim memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan mempererat hubungan persaudaraan sesama muslim. Memutuskan silaturrahim berakibat tidak diterima shalatnya seseorang selama 40 hari. Jadi merupakan sebuah manfaat yang sangat besar menjalin silaturrahim saat lebaran Idul Fitri. Meski hanya melalui telepon, SMS atau sebuah kartu ucapan, semua itu menunjukkan sebuah niatan hati yang baik dan positif.

Meski silaturrahim sendiri tak harus dilakukan ketika lebaran tiba, tetapi hari raya Idul Fitri merupakan momen yang tepat untuk mempererat dan menyambung tali silaturrahim. Tak ada yang menyangkal kalau rejeki memang bertambah pada saat itu. Dalam kunjungan ke sanak saudara atau tetangga bahkan siapa pun kenalan kita, minimal akan memperoleh sajian minuman atau kue, bahkan makan besar pun tak jarang disuguhkan untuk tamu yang datang. Pihak tuan rumah tak pernah mengeluh kalau kedatangan tamu dan dengan senang hati menjamu setiap yang datang.

Khususnya bagi anak-anak kecil, biasanya mendapat amplop atau angpao, atau yang sering disebut orang dengan zakat. Ini merupakan perwujudan kasih sayang dari yang tua kepada anak-anak. Nilainya memang berbeda, tergantung yang memberi sehingga semakin banyak yang dikunjungi maka semakin banyak pula zakat yang diterima. Semua senang, yang memberi senang dan yang diberi juga senang. Orang tua si anak pun turut senang karena anaknya mendapat uang dalam jumlah yang cukup lumayan.

Silaturrahim di hari lebaran memang bukan sekedar saling mengunjungi dan memaafkan semata. Ada banyak makna yang bisa kita temukan jika digali lebih dalam lagi. Dan tentunya kita tidak ingin di hari lebaran yang suci ini dikotori oleh setitik noda hanya karena sebuah perbedaan Idul Fitri yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Di luar itu masih banyak saudara-saudara kita yang katanya beragama Islam tetapi tidak menjalankan shalat maupun puasa Ramadhan, toh tidak pernah dipermasalahkan. Padahal mereka inilah yang seharusnya menjadi sasaran dakwah para ustadz, kyai dan para ulama dan kita semua untuk membenahi sisi keimanan mereka.

Dalam rangka mempererat jalinan silaturohmi antar remaja orang tua dan masyarakat REMAS 'Ibadurrohman karangpakel Klego boyolali pada hari ke 3 bulan syawal lalu mengadakan acara Halal Bihalal dalam bentuk acara pengajian.Tujuannya untuk memepererat silturohmi antar remaja dan memberikan sesuatu yg bermanfaat kepada masyarakat dengan adanya Tausyiyah yang disampaikan pembicara


Dalam acara tersebut dihadiri -+ 1000 hadirin wal hadlirot sehingga panitia kerepotan harus menyediakan tempat secara mendadak.alhmadulilah acara berjalan dengan lancar aman dan tertib

Halal Bihalal Remas 'Ibadurrohman 1432 H

Dalam rangka mempererat jalinan silaturohmi antar remaja orang tua dan masyarakat REMAS 'Ibadurrohman karangpakel Klego boyolali pada hari ke 3 bulan syawal lalu mengadakan acara Halal Bihalal dalam bentuk acara pengajian.Tujuannya untuk memepererat silturohmi antar remaja dan memberikan sesuatu yg bermanfaat kepada masyarakat dengan adanya Tausyiyah yang disampaikan pembicara


Dalam acara tersebut dihadiri -+ 1000 hadirin wal hadlirot sehingga panitia kerepotan harus menyediakan tempat secara mendadak.alhmadulilah acara berjalan dengan lancar aman dan tertib

Sabtu, 27 Agustus 2011



Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal, yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya kata fitri di sini diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Terminologi yang Salah

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna idul fitri sendiri juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
Makna Idul Fitri yang Asli

Idul Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami, Inilah makna Idul Fitri yang asli.
Kesalahan Besar

Adalah kesalahan besar apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘ sehingga tadinya dilarang makan di siang hari, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian. Karena Ramadhan sudah usai maka keniaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan.

Ringkasnya kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan nilai ketaqwaan.

Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kitapunyai, yaitu:

1. Rasa penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasayang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kitaberpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyakorangyang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.
3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa sehantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).

Sumber : Lembar Risalah An-Natijah No. 39/Thn. XIII - 26 September 2008



Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal, yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya kata fitri di sini diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.
Terminologi yang Salah

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna idul fitri sendiri juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
Makna Idul Fitri yang Asli

Idul Fitri berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami, Inilah makna Idul Fitri yang asli.
Kesalahan Besar

Adalah kesalahan besar apabila Idul Firi dimaknai dengan ‘Perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum‘ sehingga tadinya dilarang makan di siang hari, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam, atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan kemudian. Karena Ramadhan sudah usai maka keniaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan.

Ringkasnya kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang shaleh mustman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrahan dan nilai ketaqwaan.

Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada tiga sikap yang harus kitapunyai, yaitu:

1. Rasa penuh harap kepada AllahSWT (Raja’). Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasayang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja Di siang bulan Ramadhan kitaberpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataari yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyakorangyang hanya sekedar berpuasa saja: “Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.
3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat taqwa sehantsnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).

Sumber : Lembar Risalah An-Natijah No. 39/Thn. XIII - 26 September 2008

Rabu, 17 Agustus 2011



Diposkan oleh Abinya Azka di 12:57 Senin, 30 Agustus 2010
Label: Amaliah Ramadhan, Ramadhan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi Muhammad.saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:

Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:

“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.

Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya malam lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.

إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”

Allah swt. juga berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”

Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”

Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.

“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”

“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

“إن الله وتر يحب الوتر”

“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”

Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.

Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.

Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”

Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.

Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.
Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?

Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)

Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”

Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.

Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.

Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin [] Dakwatuna

تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال.

Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami - Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....[]


Jangan lupa komentar anda di artikel : Keistimewaan dan Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan - Malam lailatul qadar
Wallahu'alam bissowab, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Keistimewaan dan Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan - Malam lailatul qadar



Diposkan oleh Abinya Azka di 12:57 Senin, 30 Agustus 2010
Label: Amaliah Ramadhan, Ramadhan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi Muhammad.saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:

Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:

“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.

Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya malam lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.

إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”

Allah swt. juga berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”

Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”

Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.

“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”

“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

“إن الله وتر يحب الوتر”

“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”

Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.

Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.

Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”

Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.

Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.
Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?

Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)

Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”

Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.

Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.

Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin [] Dakwatuna

تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال.

Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami - Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....[]


Jangan lupa komentar anda di artikel : Keistimewaan dan Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan - Malam lailatul qadar
Wallahu'alam bissowab, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...


Hikmah Penurunan al-Quran & Lailatul Qadr

Oleh: Mohd Sukki Othman (Ustaz Shauqi)


Al-Quran adalah mukjizat teragung yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w sebagai hidayah, panduan dan pedoman dalam kehidupan manusia. Ini dijelaskan menerusi firman Allah dalam surah al-Isra’: 9.

Menurut Sheikh Manna’ Qattan dalam bukunya Mabahith fi ‘Ulum al-Quran, proses penurunan al-Quran berlaku dalam dua peringkat. Peringkat pertama ia diturunkan daripada luh mahfuz ke langit dunia secara sekali gus.

Peringkat kedua pula diturunkan daripada langit dunia kepada Nabi s.a.w secara beransur-ansur melalui perantaraan malaikat Jibril as. al-Quran yang diturunkan secara beransur-ansur ini mengambil masa selama hampir 23 tahun.

Ayat pertama diturunkan ialah ayat 1-5 daripada Surah al-‘Alaq yang diturunkan pada 17 Ramadan tahun 610 Masihi di Gua Hira’.

Ayat terakhir ialah ayat 281 surah al-Baqarah yang diturunkan sembilan malam sebelum kewafatan Rasulullah.

Setiap orang Islam mesti berusaha sedaya upaya untuk membaca, memahami, menghayati dan mempraktikkan keseluruhan isi kandungan al-Quran dalam kehidupan.

Dr. Solah Abdul Fattah al-Khalidi dalam bukunya Mafatih li al-Ta’amul ma’a al-Quran menyenaraikan beberapa tujuan utama al-Quran itu diturunkan. Antaranya ialah:

* Untuk mendapat hidayah daripada Allah.

* Untuk mewujudkan peribadi muslim yang unggul dan seimbang.

* Mewujudkan masyarakat Islam tulen.

* Sebagai senjata dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha untuk menghancurkan Islam.

Untuk melihat bahawa kita benar-benar beriman dan yakin terhadap isi dan kandungan al-Quran tersebut perlulah, ada pada diri kita beberapa ciri sebagai tanda dan ukuran. Ciri-ciri yang dimaksudkan itu ialah:

* Hendaklah kita sentiasa membaca dan berusaha menghafalnya. Dengan membaca al-Quran ia dapat menambah kebersihan jiwa, ketenangan, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan membaca al-Quran itu juga, kita akan mendapat ganjaran pahala dan syafaat dari Allah, sebagaimana maksud sabda junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w: “Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada pembacanya”.

* Al-Quran itu hendaklah dibaca dengan tartil iaitu dengan bacaan yang terang, jelas dan betul mengikut ilmu tajwid.

* Hendaklah kita sentiasa meneliti, memahami kandungan dan pengertian yang disampaikan dalam al-Quran. Allah berfirman yang bermaksud: Maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup yang menghalangnya daripada menerima ajaran al-Quran. (Muhammad: 24)

Al-Quran adalah gedung ilmu dan petunjuk yang benar. Ia merupakan khazanah ilmu yang mampu membentuk pemikiran serta akal manusia. Sebab itu apabila seseorang berfikir dengan berlandaskan al-Quran, maka ia menjadi satu pemikiran yang kukuh dan sepadu serta berjaya memimpin diri, keluarga, masyarakat dan negara ke arah yang diredai oleh Allah.

Apatah lagi pada bulan Ramadan ini, Allah menjanjikan pahala yang besar terutamanya pada Lailatul qadr iaitu malam yang padanya diturunkan al-Quran. Lailatul qadr merupakan peluang terbaik kita, oleh itu jangan sia-siakan peluang keemasan ini.

Mengenai persoalan mengapakah masih ramai hamba Allah yang masih memandang ringan kepada Lailatul qadr. Mungkin antara sebabnya ialah:

* Mereka mengidap penyakit lemah iman, kurang jelas tentang kebesaran dan kemuliaan serta ganjaran pahala pada malam al-Qadr, sebaliknya mereka lebih nampak besar perkara-perkara materialistik yang boleh didapati dengan segera di dunia ini.

* Selalu mengikut hawa nafsu sampai mereka tidak sudi untuk melakukan ibadat pada malam-malam 10 akhir Ramadan. Kerana nafsu ingin berehat, menonton televisyen, berbual-bual kosong, mahu bersama-sama bantal, tilam dan kain selimut.

Ada pula yang sibuk membeli-belah untuk persiapan raya sampai terlupa ganjaran yang disediakan oleh Allah pada malam al-qadr.

* Penyakit panjang angan-angan. Mereka berangan-angan akan hidup 100 tahun lagi yang menyebabkan mereka membiarkan malam-malam 10 terakhir Ramadan berlalu begitu sahaja tanpa diisi dengan amal ibadat kepada Allah.

Marilah kita sama-sama menerima bonus Allah yang berupa nikmat Lailatul qadr dengan penuh kesyukuran dan ikhlas hati. Kita sahut panggilan surah al-Qadr ini dengan azam melaksanakan sebanyak-banyak ibadat pada 10 malam tersebut.
Caranya, melakukan solat fardu berjemaah, solat sunat tarawih dan witir, membanyakkan bacaan al-Quran, mengulangi membaca surah al-Ikhlas, berzikir dan berselawat kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w dengan penuh harapan semoga kita termasuk di dalam golongan hamba-hamba Allah yang soleh

Hikmah Penurunan al-Quran & Lailatul Qadr


Hikmah Penurunan al-Quran & Lailatul Qadr

Oleh: Mohd Sukki Othman (Ustaz Shauqi)


Al-Quran adalah mukjizat teragung yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w sebagai hidayah, panduan dan pedoman dalam kehidupan manusia. Ini dijelaskan menerusi firman Allah dalam surah al-Isra’: 9.

Menurut Sheikh Manna’ Qattan dalam bukunya Mabahith fi ‘Ulum al-Quran, proses penurunan al-Quran berlaku dalam dua peringkat. Peringkat pertama ia diturunkan daripada luh mahfuz ke langit dunia secara sekali gus.

Peringkat kedua pula diturunkan daripada langit dunia kepada Nabi s.a.w secara beransur-ansur melalui perantaraan malaikat Jibril as. al-Quran yang diturunkan secara beransur-ansur ini mengambil masa selama hampir 23 tahun.

Ayat pertama diturunkan ialah ayat 1-5 daripada Surah al-‘Alaq yang diturunkan pada 17 Ramadan tahun 610 Masihi di Gua Hira’.

Ayat terakhir ialah ayat 281 surah al-Baqarah yang diturunkan sembilan malam sebelum kewafatan Rasulullah.

Setiap orang Islam mesti berusaha sedaya upaya untuk membaca, memahami, menghayati dan mempraktikkan keseluruhan isi kandungan al-Quran dalam kehidupan.

Dr. Solah Abdul Fattah al-Khalidi dalam bukunya Mafatih li al-Ta’amul ma’a al-Quran menyenaraikan beberapa tujuan utama al-Quran itu diturunkan. Antaranya ialah:

* Untuk mendapat hidayah daripada Allah.

* Untuk mewujudkan peribadi muslim yang unggul dan seimbang.

* Mewujudkan masyarakat Islam tulen.

* Sebagai senjata dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha untuk menghancurkan Islam.

Untuk melihat bahawa kita benar-benar beriman dan yakin terhadap isi dan kandungan al-Quran tersebut perlulah, ada pada diri kita beberapa ciri sebagai tanda dan ukuran. Ciri-ciri yang dimaksudkan itu ialah:

* Hendaklah kita sentiasa membaca dan berusaha menghafalnya. Dengan membaca al-Quran ia dapat menambah kebersihan jiwa, ketenangan, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan membaca al-Quran itu juga, kita akan mendapat ganjaran pahala dan syafaat dari Allah, sebagaimana maksud sabda junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w: “Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada pembacanya”.

* Al-Quran itu hendaklah dibaca dengan tartil iaitu dengan bacaan yang terang, jelas dan betul mengikut ilmu tajwid.

* Hendaklah kita sentiasa meneliti, memahami kandungan dan pengertian yang disampaikan dalam al-Quran. Allah berfirman yang bermaksud: Maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup yang menghalangnya daripada menerima ajaran al-Quran. (Muhammad: 24)

Al-Quran adalah gedung ilmu dan petunjuk yang benar. Ia merupakan khazanah ilmu yang mampu membentuk pemikiran serta akal manusia. Sebab itu apabila seseorang berfikir dengan berlandaskan al-Quran, maka ia menjadi satu pemikiran yang kukuh dan sepadu serta berjaya memimpin diri, keluarga, masyarakat dan negara ke arah yang diredai oleh Allah.

Apatah lagi pada bulan Ramadan ini, Allah menjanjikan pahala yang besar terutamanya pada Lailatul qadr iaitu malam yang padanya diturunkan al-Quran. Lailatul qadr merupakan peluang terbaik kita, oleh itu jangan sia-siakan peluang keemasan ini.

Mengenai persoalan mengapakah masih ramai hamba Allah yang masih memandang ringan kepada Lailatul qadr. Mungkin antara sebabnya ialah:

* Mereka mengidap penyakit lemah iman, kurang jelas tentang kebesaran dan kemuliaan serta ganjaran pahala pada malam al-Qadr, sebaliknya mereka lebih nampak besar perkara-perkara materialistik yang boleh didapati dengan segera di dunia ini.

* Selalu mengikut hawa nafsu sampai mereka tidak sudi untuk melakukan ibadat pada malam-malam 10 akhir Ramadan. Kerana nafsu ingin berehat, menonton televisyen, berbual-bual kosong, mahu bersama-sama bantal, tilam dan kain selimut.

Ada pula yang sibuk membeli-belah untuk persiapan raya sampai terlupa ganjaran yang disediakan oleh Allah pada malam al-qadr.

* Penyakit panjang angan-angan. Mereka berangan-angan akan hidup 100 tahun lagi yang menyebabkan mereka membiarkan malam-malam 10 terakhir Ramadan berlalu begitu sahaja tanpa diisi dengan amal ibadat kepada Allah.

Marilah kita sama-sama menerima bonus Allah yang berupa nikmat Lailatul qadr dengan penuh kesyukuran dan ikhlas hati. Kita sahut panggilan surah al-Qadr ini dengan azam melaksanakan sebanyak-banyak ibadat pada 10 malam tersebut.
Caranya, melakukan solat fardu berjemaah, solat sunat tarawih dan witir, membanyakkan bacaan al-Quran, mengulangi membaca surah al-Ikhlas, berzikir dan berselawat kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w dengan penuh harapan semoga kita termasuk di dalam golongan hamba-hamba Allah yang soleh

Hikmah Lailatul Qadar


Aku sujud padaMu ya ALLAH..

LAILATUL Qadar adalah malam yang berlaku pada Ramadan. Malam ini disebutkan dalam dua surah al-Quran, iaitu pada surah al-Dukhan dan al-Qadr.

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam yang penuh keberkatan dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Surah al-Dukhan, ayat 2)

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam kemuliaan.” (Surah al-Qadr, ayat 1)

Berdasarkan ayat di atas dapat dilihat bahawa malam al-Qadar disebut juga dengan malam yang penuh keberkatan. Sebab pada malam itu Allah mencucuri pelbagai rahmat, keampunan dan keberkatan kepada orang yang beramal dengan khusyuk dan berdoa dengan penuh keikhlasan.

Kepada mereka Allah memberikan ganjaran kebaikan yang sama nilainya dengan beramal seribu. Firman Allah bermaksud: “Malam al-Qadar itu itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Surah al-Qadr, ayat 3)

Ada beberapa riwayat yang menceritakan sebab Allah menurunkan malam al-Qadar untuk umat Muhammad.

Menurut Imam Malik, Rasulullah melihat bahawa umur umatnya tidak sepanjang umat sebelum mereka, baginda bermohon kepada Allah memberikan peluang di mana umatnya supaya dapat beramal dengan yang nilainya sama dengan amalan umat sebelum mereka.

Berdasarkan permohonan inilah maka Allah menurunkan Lailatul Qadar.

Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahawa sebab malam itu diturunkan kepada umat Muhamad kerana Qadar itu bermakna ketentuan atau takdir. Pada malam itu Allah mula mentakdirkan agama-Nya dan memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru manusia kepada agama yang melepaskan mereka daripada segala kehancuran dan kerosakan.

Pendapat Syeikh Muhammad Abduh ini berdasarkan kenyataan bahawa al-Quran pertama kali diturunkan pada malam al-Qadar. Turunnya al-Quran pada dasarnya adalah watikah pelantikan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang bertanggungjawab menyampaikan risalah Islam. Begitu juga dalam mengubah corak hidup manusia daripada alam jahiliah kepada suasana Islam. Ertinya malam al-Qadar itu adalah malam disyariatkan Islam kepada umat Nabi Muhammad sebagai agama penyelamat untuk seluruh alam.

Ada ulama lain yang menyatakan bahawa penyebab dikatakan dengan malam al-Qadar kerana pada malam itu Allah menetapkan takdir setiap makhluk baik berupa rezeki, umur atau sakit atau sihatnya seseorang untuk jangka masa setahun, iaitu dari malam al-Qadar tahun ini hingga ke malam al-Qadar tahun depan.

Mengenai jatuhnya malam al-Qadar, ulama berbeza pendapat mengenainya. Imam Nawawi berkata bahawa sebahagian ulama menyatakan malam itu bergilir dari tahun ke tahun. Ertinya apabila pada tahun ini berlaku pada malam 29 Ramadan, maka tahun akan datang datang pada malam berbeza.

Hal sama dikatakan oleh Ibn Hazm bahawa Lailatul Qadar itu ada kalanya pada malam 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.

Sementara menurut jumhur ulama, Lailatul Qadar berlaku pada malam yang sama pada setiap Ramadan iaitu pada malam 27 Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah daripada Ubai bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan hadis dari Mu’awiyah yang diriwayatkan Abu Dawud. “Saya mendengar Rasulullah bersabda carilah Lailatul Qadar itu pada malam 27.”

Sebahagian sahabat dan ulama mencuba menentukan Lailatul Qadar dengan cara lain, iaitu menggunakan rumusan tertentu.

Ibnu Abbas berkata bahawa surah al-Qadr itu terdiri daripada 30 kalimah. Kata salamum hiya (selamat sejahteralah malam itu) berada pada kalimah yang ke-27. Oleh itu Ibnu Abbas menyatakan bahawa malam al-Qadar berlaku pada malam ke-27.

Sementara sebahagian ulama menyatakan bahawa kalimat Lailatul Qadr terdiri daripada sembilan huruf. Dalam surah al-Qadr kata-kata Lailatul Qadr itu diulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka sembilan darab tiga adalah 27. Maknanya Lailatul Qadar itu berlaku pada malam 27.

Sementara ulama lain seperti Ahmad Marzuk dan Ibnu Arabi berpendapat bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada malam Jumaat ganjil pada 10 malam terakhir Ramadan.

Namun dalil yang paling kuat mengenai Lailatul Qadar adalah hadis daripada Aishah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. “Carilah sedaya-upaya kamu Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam ganjil pada akhir Ramadan.”

Perbezaan pendapat sahabat dan ulama ini sebenarnya adalah satu kenyataan bahawa tidak ada satu dalil jelas yang menunjukkan bila malam ini berlaku. Tetapi sahabat dan ulama bersepakat dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aishah tadi bahawa malam itu berlaku pada sepuluh malam ganjil akhir Ramadan.

Menurut Prof Wahbah al-Zuhayli, sebab dirahsiakan Lailatul Qadar supaya umat Islam sentiasa berusaha beribadah pada setiap malam Ramadan tanpa menumpukan pada satu malam saja. Ini kerana setiap malam pada Ramadan memiliki hikmah dan rahsia tersendiri

Hikmah Lailatul Qadar

Hikmah Lailatul Qadar


Aku sujud padaMu ya ALLAH..

LAILATUL Qadar adalah malam yang berlaku pada Ramadan. Malam ini disebutkan dalam dua surah al-Quran, iaitu pada surah al-Dukhan dan al-Qadr.

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam yang penuh keberkatan dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Surah al-Dukhan, ayat 2)

Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam kemuliaan.” (Surah al-Qadr, ayat 1)

Berdasarkan ayat di atas dapat dilihat bahawa malam al-Qadar disebut juga dengan malam yang penuh keberkatan. Sebab pada malam itu Allah mencucuri pelbagai rahmat, keampunan dan keberkatan kepada orang yang beramal dengan khusyuk dan berdoa dengan penuh keikhlasan.

Kepada mereka Allah memberikan ganjaran kebaikan yang sama nilainya dengan beramal seribu. Firman Allah bermaksud: “Malam al-Qadar itu itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Surah al-Qadr, ayat 3)

Ada beberapa riwayat yang menceritakan sebab Allah menurunkan malam al-Qadar untuk umat Muhammad.

Menurut Imam Malik, Rasulullah melihat bahawa umur umatnya tidak sepanjang umat sebelum mereka, baginda bermohon kepada Allah memberikan peluang di mana umatnya supaya dapat beramal dengan yang nilainya sama dengan amalan umat sebelum mereka.

Berdasarkan permohonan inilah maka Allah menurunkan Lailatul Qadar.

Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahawa sebab malam itu diturunkan kepada umat Muhamad kerana Qadar itu bermakna ketentuan atau takdir. Pada malam itu Allah mula mentakdirkan agama-Nya dan memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru manusia kepada agama yang melepaskan mereka daripada segala kehancuran dan kerosakan.

Pendapat Syeikh Muhammad Abduh ini berdasarkan kenyataan bahawa al-Quran pertama kali diturunkan pada malam al-Qadar. Turunnya al-Quran pada dasarnya adalah watikah pelantikan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang bertanggungjawab menyampaikan risalah Islam. Begitu juga dalam mengubah corak hidup manusia daripada alam jahiliah kepada suasana Islam. Ertinya malam al-Qadar itu adalah malam disyariatkan Islam kepada umat Nabi Muhammad sebagai agama penyelamat untuk seluruh alam.

Ada ulama lain yang menyatakan bahawa penyebab dikatakan dengan malam al-Qadar kerana pada malam itu Allah menetapkan takdir setiap makhluk baik berupa rezeki, umur atau sakit atau sihatnya seseorang untuk jangka masa setahun, iaitu dari malam al-Qadar tahun ini hingga ke malam al-Qadar tahun depan.

Mengenai jatuhnya malam al-Qadar, ulama berbeza pendapat mengenainya. Imam Nawawi berkata bahawa sebahagian ulama menyatakan malam itu bergilir dari tahun ke tahun. Ertinya apabila pada tahun ini berlaku pada malam 29 Ramadan, maka tahun akan datang datang pada malam berbeza.

Hal sama dikatakan oleh Ibn Hazm bahawa Lailatul Qadar itu ada kalanya pada malam 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.

Sementara menurut jumhur ulama, Lailatul Qadar berlaku pada malam yang sama pada setiap Ramadan iaitu pada malam 27 Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah daripada Ubai bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan hadis dari Mu’awiyah yang diriwayatkan Abu Dawud. “Saya mendengar Rasulullah bersabda carilah Lailatul Qadar itu pada malam 27.”

Sebahagian sahabat dan ulama mencuba menentukan Lailatul Qadar dengan cara lain, iaitu menggunakan rumusan tertentu.

Ibnu Abbas berkata bahawa surah al-Qadr itu terdiri daripada 30 kalimah. Kata salamum hiya (selamat sejahteralah malam itu) berada pada kalimah yang ke-27. Oleh itu Ibnu Abbas menyatakan bahawa malam al-Qadar berlaku pada malam ke-27.

Sementara sebahagian ulama menyatakan bahawa kalimat Lailatul Qadr terdiri daripada sembilan huruf. Dalam surah al-Qadr kata-kata Lailatul Qadr itu diulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka sembilan darab tiga adalah 27. Maknanya Lailatul Qadar itu berlaku pada malam 27.

Sementara ulama lain seperti Ahmad Marzuk dan Ibnu Arabi berpendapat bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada malam Jumaat ganjil pada 10 malam terakhir Ramadan.

Namun dalil yang paling kuat mengenai Lailatul Qadar adalah hadis daripada Aishah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. “Carilah sedaya-upaya kamu Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam ganjil pada akhir Ramadan.”

Perbezaan pendapat sahabat dan ulama ini sebenarnya adalah satu kenyataan bahawa tidak ada satu dalil jelas yang menunjukkan bila malam ini berlaku. Tetapi sahabat dan ulama bersepakat dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aishah tadi bahawa malam itu berlaku pada sepuluh malam ganjil akhir Ramadan.

Menurut Prof Wahbah al-Zuhayli, sebab dirahsiakan Lailatul Qadar supaya umat Islam sentiasa berusaha beribadah pada setiap malam Ramadan tanpa menumpukan pada satu malam saja. Ini kerana setiap malam pada Ramadan memiliki hikmah dan rahsia tersendiri


Read more: Mengganti tampilan Cursor Mouse pada Blogger ~ Home Design Ideas http://kibagus-homedesign.blogspot.com/2010/03/mengganti-tampilan-cursor-mouse-pada.html#ixzz1VH5nEiMF
Under Creative Commons License: Attribution

ARSIP BUAT BENTUK CURSOR


Read more: Mengganti tampilan Cursor Mouse pada Blogger ~ Home Design Ideas http://kibagus-homedesign.blogspot.com/2010/03/mengganti-tampilan-cursor-mouse-pada.html#ixzz1VH5nEiMF
Under Creative Commons License: Attribution

Radio Attarmasi FM dapat Dinikmati Lewat Radio Streaming


listen_liveTremas : Alhamdulillah hi Robbil Alamiin……harapan dari semua pihak terutama Alumni pondok Tremas yang menginginkan Radio Attarmasi FM untuk Goo dunia Maya akhirnya dapat terwujud.ini setelah crew yang dibantu beberapa Alumni yang berkompeten dalam bidang Teknologi (IT) ikut mencurahkan pikiran serta tenaganya untuk radio Attarmasi FM tercinta ,Sehingga radio ini dapat dinikmati siaranya melalui Radio streaming.

Tepat pukul 17.30 menjelang buka puasa sore tadi ( 16/08) radio On Line dapat diudarakn lewat jaringn Internet di Website Resmi Pondok Tremas dan di Web Blog radio Attarmasi FM.Ini Berarti Radio Attarmasi FM Pacitan dapat di nikmati siaranya oleh pendengar di Pelbagai belahan dunia.

diusianya yang menginjak 4 tahun ini,Attarmsi FM yang berada pada Frequensi 95,5 Mhz berusaha untuk memaksimalkan serta menghadirkan Program acara yang terbaik yang telah ada sehingga mampu bersaing dengan radio-radio lainya yang ada di Pacitn dan sekitarnya.Untuk dapat mendengarkan Siaran secara langsung bisa di klik di http://attarmsifm.wordprees.com.

Harapan dari para pendengar yang menikmati radio Attarmasi FM fm melalui streaming, mudah-mudahan langkah awal ini menjadi pemicu bagi Crew Radio Attarmasi FM untuk lebih Aktif & kreatif memberikan yang terbaik buat pendengar/pecintanya! amiin.

Radio Attarmasi FM dapat Dinikmati Lewat Radio Streaming


listen_liveTremas : Alhamdulillah hi Robbil Alamiin……harapan dari semua pihak terutama Alumni pondok Tremas yang menginginkan Radio Attarmasi FM untuk Goo dunia Maya akhirnya dapat terwujud.ini setelah crew yang dibantu beberapa Alumni yang berkompeten dalam bidang Teknologi (IT) ikut mencurahkan pikiran serta tenaganya untuk radio Attarmasi FM tercinta ,Sehingga radio ini dapat dinikmati siaranya melalui Radio streaming.

Tepat pukul 17.30 menjelang buka puasa sore tadi ( 16/08) radio On Line dapat diudarakn lewat jaringn Internet di Website Resmi Pondok Tremas dan di Web Blog radio Attarmasi FM.Ini Berarti Radio Attarmasi FM Pacitan dapat di nikmati siaranya oleh pendengar di Pelbagai belahan dunia.

diusianya yang menginjak 4 tahun ini,Attarmsi FM yang berada pada Frequensi 95,5 Mhz berusaha untuk memaksimalkan serta menghadirkan Program acara yang terbaik yang telah ada sehingga mampu bersaing dengan radio-radio lainya yang ada di Pacitn dan sekitarnya.Untuk dapat mendengarkan Siaran secara langsung bisa di klik di http://attarmsifm.wordprees.com.

Harapan dari para pendengar yang menikmati radio Attarmasi FM fm melalui streaming, mudah-mudahan langkah awal ini menjadi pemicu bagi Crew Radio Attarmasi FM untuk lebih Aktif & kreatif memberikan yang terbaik buat pendengar/pecintanya! amiin.

Minggu, 07 Agustus 2011

Hikmah Kemerdekaan





ImageSaudaraku, betapa pentingnya kita mengambil hikmah kemerdekaan ini. Kemerdekaan dapat diartikan pula agar kita mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang dapat merusak martabat kita sebagai manusia mulia, karena terjajah oleh sesuatu selain Allah. WASPADA Online
Saudaraku, betapa pentingnya kita mengambil hikmah kemerdekaan ini. Kemerdekaan dapat diartikan pula agar kita mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang dapat merusak martabat kita sebagai manusia mulia, karena terjajah oleh sesuatu selain Allah.

Saudaraku, sudah enam puluh dua tahun bangsa Indonesia merdeka. Dalam hal ini, tentu sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang dikaruniakan-Nya. Tidak bisa kita mungkiri bahwa kemerdekaan tersebut tidak lepas dari perjuangan para pahlawan.

Sungguh, salah satu ciri bangsa yang pandai bersyukur adalah pandai menghargai jasa para pahlawannya. Bangsa yang pandai bersyukur mampu pula
mengoreksi dan memperbaiki dirinya, serta saling berlomba menggapai ampunan dan rida Allah. Tidak mudah memang, tapi sebagai bangsa kita harus berjuang, mulai dari diri kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita terima. Lalu, seperti apakah hidup merdeka itu? Nah, dalam uraian ini secara sederhana, insya Allah akan kita paparkan mengenai hidup merdeka.

Kemerdekaan dapat kita nikmati pula jika kita dapat menghindari penjajahan dalam diri kita, misalnya dalam bentuk amarah. Kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk melatih diri menjadi seorang yang dapat mengendalikan amarah, melatih diri untuk tidak mudah tersinggung, melatih diri untuk mudah memaafkan dan memaklumi keadaan orang lain, bahkan kalau bisa latih diri kita untuk membalas dengan kebaikan kepada orang-orang yang khilaf berbuat keburukan kepada kita. Insya Allah hidup ini lebih ringan dan bermartabat jika kita mampu melakukannya.
Penjajahan lain yang sering mempengaruhi kehidupan kita, jika kita terbelenggu oleh cinta. Cinta tentunya dapat memperindah dan menghiasi hidup kita. Tapi kita lihat juga ada orang yang terjerumus ke dalam lembah nista dan perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta. Tentu cinta buta yang membuat tidak bisa melihat kebenaran. Waspadalah saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan membaranya nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia dan akhirat.

Sahabatku yang baik, semakin banyak kita bergantung kepada sesuatu, maka kita akan takut kehilangan sesuatu itu. Seperti orang yang bersandar di kursi maka ia akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantunglah kepada Allah, itulah yang akan memuaskan, karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan.

Allah Maha Tahu masalah kita, Allah Maha Tahu segala jalan keluar dari kesulitan kita dan Allahlah yang kuasa atas segala-galanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq/65 ayat: 2-3 yang artinya: ... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.

Saudaraku keyakinan kepada Allah jangan pernah mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan dalam hidup ini. Sehingga Akhlak kita menjadi mulia dan indah jika setiap perilaku kita bisa menjadi amal shaleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal perjumpaan dengan Allah SWT. Sekali merdeka tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Wallahu a'lam bish showab

HIKMAH KEMERDEKAAN

Hikmah Kemerdekaan





ImageSaudaraku, betapa pentingnya kita mengambil hikmah kemerdekaan ini. Kemerdekaan dapat diartikan pula agar kita mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang dapat merusak martabat kita sebagai manusia mulia, karena terjajah oleh sesuatu selain Allah. WASPADA Online
Saudaraku, betapa pentingnya kita mengambil hikmah kemerdekaan ini. Kemerdekaan dapat diartikan pula agar kita mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang dapat merusak martabat kita sebagai manusia mulia, karena terjajah oleh sesuatu selain Allah.

Saudaraku, sudah enam puluh dua tahun bangsa Indonesia merdeka. Dalam hal ini, tentu sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang dikaruniakan-Nya. Tidak bisa kita mungkiri bahwa kemerdekaan tersebut tidak lepas dari perjuangan para pahlawan.

Sungguh, salah satu ciri bangsa yang pandai bersyukur adalah pandai menghargai jasa para pahlawannya. Bangsa yang pandai bersyukur mampu pula
mengoreksi dan memperbaiki dirinya, serta saling berlomba menggapai ampunan dan rida Allah. Tidak mudah memang, tapi sebagai bangsa kita harus berjuang, mulai dari diri kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita terima. Lalu, seperti apakah hidup merdeka itu? Nah, dalam uraian ini secara sederhana, insya Allah akan kita paparkan mengenai hidup merdeka.

Kemerdekaan dapat kita nikmati pula jika kita dapat menghindari penjajahan dalam diri kita, misalnya dalam bentuk amarah. Kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk melatih diri menjadi seorang yang dapat mengendalikan amarah, melatih diri untuk tidak mudah tersinggung, melatih diri untuk mudah memaafkan dan memaklumi keadaan orang lain, bahkan kalau bisa latih diri kita untuk membalas dengan kebaikan kepada orang-orang yang khilaf berbuat keburukan kepada kita. Insya Allah hidup ini lebih ringan dan bermartabat jika kita mampu melakukannya.
Penjajahan lain yang sering mempengaruhi kehidupan kita, jika kita terbelenggu oleh cinta. Cinta tentunya dapat memperindah dan menghiasi hidup kita. Tapi kita lihat juga ada orang yang terjerumus ke dalam lembah nista dan perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta. Tentu cinta buta yang membuat tidak bisa melihat kebenaran. Waspadalah saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan membaranya nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia dan akhirat.

Sahabatku yang baik, semakin banyak kita bergantung kepada sesuatu, maka kita akan takut kehilangan sesuatu itu. Seperti orang yang bersandar di kursi maka ia akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantunglah kepada Allah, itulah yang akan memuaskan, karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan.

Allah Maha Tahu masalah kita, Allah Maha Tahu segala jalan keluar dari kesulitan kita dan Allahlah yang kuasa atas segala-galanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq/65 ayat: 2-3 yang artinya: ... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.

Saudaraku keyakinan kepada Allah jangan pernah mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan dalam hidup ini. Sehingga Akhlak kita menjadi mulia dan indah jika setiap perilaku kita bisa menjadi amal shaleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal perjumpaan dengan Allah SWT. Sekali merdeka tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Wallahu a'lam bish showab

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan RamadhaN


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung, bulan yang selalu dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang shaleh dan beriman kepada Allah SwT.

Tidak terasa, Ramadhan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari terakhir. Sebagian ulama kita membagi fase bulan Ramadhan dengan tiga bagian. Fase pertama, yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase maghfiroh, serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka. Maka saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Salman al- farisi, “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Rasulullah Muhammad Saw, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi kita, jika Ramadhan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT, bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah r.a., ia menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan bernilai ibadah selama 1000 bulan yang juga berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3: “Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).

Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan i’tikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah, banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr; 5).

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. “Barangsiapa melakukan shalat malam pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.

Rasullah Saw bersabda: “Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”

Dengan demikian mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadhan ini dengan meningkatkan amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam penghujung bulkan ini. Semoga kita mendapatkan segala limpahan kemuliaan dari Allah SwT. Amiiiin......(Zarkasih)

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan RamadhaN


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung, bulan yang selalu dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang shaleh dan beriman kepada Allah SwT.

Tidak terasa, Ramadhan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari terakhir. Sebagian ulama kita membagi fase bulan Ramadhan dengan tiga bagian. Fase pertama, yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase maghfiroh, serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka. Maka saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Salman al- farisi, “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Rasulullah Muhammad Saw, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi kita, jika Ramadhan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT, bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah r.a., ia menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan bernilai ibadah selama 1000 bulan yang juga berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3: “Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).

Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan i’tikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah, banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr; 5).

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. “Barangsiapa melakukan shalat malam pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.

Rasullah Saw bersabda: “Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”

Dengan demikian mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadhan ini dengan meningkatkan amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam penghujung bulkan ini. Semoga kita mendapatkan segala limpahan kemuliaan dari Allah SwT. Amiiiin......(Zarkasih)

animasi-bergerak-bendera-indonesia-0010
">See all posts'); document.write('

?max-results=10">

'); document.write("?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts2\"><\/script>");
Diberdayakan oleh Blogger.
?">index'); document.write('

?max-results=10">Label 5

');
    ?max-results="+numposts2+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts2\"><\/script>");

Mengenai Saya

anak singkong yang tak berhenti bermimpi cinta damai dan selalu setia

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Translate

Popular Posts

MITRA

back to top